Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ungkap kemungkinan besar jaringan sungai purba di wilayah Paparan Sunda, dulunya merupakan jalur mobilitas utama manusia modern awal saat bermigrasi di Asia Tenggara.
Peneliti Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah (PR APS) BRIN, Vida Pervaya Rusianti Kusmartono menjelaskan, penelitian geomorfologi dan paleogeografi memperlihatkan Paparan Sunda pada zaman Pleistosen mempunyai sistem sungai besar yang sekarang tenggelam karena kenaikan muka laut. Ia menilai jaringan sungai purba ini kemungkinan pernah menjadi koridor ekologis yang mendukung persebaran manusia prasejarah menuju wilayah pedalaman ataupun kawasan Wallacea.
"Mobilitas manusia prasejarah kemungkinan tidak hanya mengikuti jalur pesisir, tetapi juga memanfaatkan sistem sungai purba sebagai jalur perpindahan," jelasnya dalam kajian "Kalimantan: Migrasi Manusia di Kawasan Timur Bawah Paparan Sunda pada Kala Pleistosen Akhir-Awal Holosen", dikutip dari BRIN pada Senin (1/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Migrasi Manusia dari Afrika ke Asia Tenggara
Vida memaparkan, migrasi manusia modern dari Afrika ke Asia Tenggara tidak langsung dalam satu gelombang, tetapi dalam tahapan panjang dan jalur beragam. Ia menyebut salah satu teori yang berkembang adalah coastal migration theory atau teori migrasi pesisir, yaitu perpindahan manusia melalui kawasan pantai yang menyediakan sumber pangan berlimpah dan jalur mobilitas lebih mudah daripada wilayah pedalaman.
"Pada masa glasial, permukaan laut turun sehingga membentuk daratan luas yang menghubungkan wilayah-wilayah di Asia Tenggara. Kondisi ini memungkinkan mobilitas manusia, flora, dan fauna di Paparan Sunda," terangnya.
Ia mengatakan kawasan timur Paparan Sunda mempunyai posisi strategis lantaran menjadi penghubung menuju Wallacea dan Sahul atau Australia-Papua. Sejumlah situs bersejarah di Kalimantan memperlihatkan keberadaan manusia modern sejak sekitar 45.000-30.000 tahun lalu. Fakta tersebut didapat dari temuan alat batu, sisa fauna, serta bukti hunian gua.
Walau demikian, menurut Vida, penelitian migrasi manusia awal di Asia Tenggara masih menghadapi tantangan berat. Hal ini khususnya karena iklim tropis yang menyebabkan fosil sulit terawetkan.
Selain itu, tingkat keasaman tanah yang tinggi mempercepat kerusakan tulang dan kolagen. Dua faktor ini menjadi tantangan dalam proses penanggalan absolut.
Oleh sebab itu, BRIN mendorong penelitian lanjutan melalui survei geofisika, analisis sedimen, dan berbagai metode penanggalan modern untuk mendapatkan data lebih akurat terkait migrasi manusia prasejarah di kawasan Paparan Sunda.
Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (OR Arbastra) BRIN, Herry Yogaswara menambahkan, tema ini sangat penting karena berkaitan erat dengan pemahaman dinamika awal peradaban manusia di Nusantara. BRIN juga telah membentuk Center for Human Evolution, Adaptation, and Dispersal in Southeast Asia (CHEADSEA) yang mendapatkan perhatian dari UNESCO.
(nah/twu)











































