JAKARTA, KOMPAS.com - Dugaan penggelapan dana yang diduga dilakukan Travel Hanania membuat sekitar 2.500 jemaah gagal berangkat umroh di tahun 2026.
Hal itu disampaikan oleh perwakilan korban bersama kuasa hukumnya Joddy Mulyasetya Putra ketika konfersi pers di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Senin (1/6/2026).
"Jadi total lebih dari 2.500 jemaah (gagal berangkat umrah)," ucap salah satu korban bernama Anny Rofi (30) di lokasi.
Baca juga: Kasus Gagal Umrah Hanania Travel, Kemenhaj Harus Pastikan Hak Calon Jemaah
Anny bergabung dalam grup pertama yang terjadwal berangkat umrah pada 21 Maret 2026.
Selain Anny, ada sekitar 43 orang lain yang tergabung dalam grup pertama dan juga gagal berangkat.
Pembatalan dilakukan secara mendadak atau tepat di tanggal 18 Maret 2026, sekitar pukul 20.00 WIB.
Selain kelompoknya, ternyata ada kelompok lain juga yang seharusnya berangkat pada Bulan Syawal sekitar tanggal 21 Maret hingga 3 April, sehingga totalnya mencapai 1.500 orang gagal pergi ke tanah suci.
Namun, para jemaah yang gagal berangkat pada bulan Syawal itu sudah sempat melakukan mediasi dengan pihak travel dibantu dengan Kementerian Haji dan Umrah.
Dalam mediasi itu, sekitar 1.000 jemaah mengajukan refund dengan nominal sekitar Rp 34 Miliar.
Sementara sisa jemaah lagi memilih untuk direschedule dengan berbagai pertimbangan, seperti tak ada lagi dana untuk mendaftar umrah ke travel lain.
"Karena untuk opsi refund itu penyelesaiannya sampai dengan 31 Agustus, sementara dijanjikan untuk reschedule itu ada sejak pemberangkatan pertama itu 11 Juni. 11 Juni ada beberapa grup, 12 Juni dan seterusnya sampai dengan waktu itu yang sudah rilis tanggal kalau saya tidak salah itu sampai dengan akhir Juli," sambung Anny.
Baca juga: Kemenhaj Diminta Publikasikan PPIU yang Terakreditasi Buntut Kasus Hanania Travel
Di tengah proses refund dan reschedule yang sudah dijanjikan Travel Hanania, korban dugaan penggelapan dana ini justru bertambah.
Sebab, Travel Hanania meminta untuk calon jemaah yang sudah terdaftar untuk keberangkatan Juni dan Juli segera melunasi sisa biaya umrah dengan garansi akan diberangkatkan sesuai jadwal.
Calon jemaah yang dijanjikan berangkat pada bulan Juni dan Juli yang akhirnya juga menjadi korban kurang lebih mencapai 1.400 orang.
Untuk kloter Juni dan Juli sendiri, kerugian para korban ditaksir mencapai Rp 50 Miliar.
Jadi, jika ditotal untuk sementara ini ada sekitar 2.500 jemaah yang gagal berangkat dan kerugiannya mencapai ratusan Miliar.
"Harga paket estimasi paling murah itu adalah Rp 29,9 juta. Kita ambil rata-ratanya itu sekitar Rp35 juta, mungkin kerugian totalnya adalah hampir sampai dengan Rp 100 Miliar," jelas Anny.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangDapatkan lebih banyak kuota, pahami berita lebih cepat, dan gali konteks mendalam dari artikel KOMPAS.com.