Uraikan lika-liku Anda mengasuh anak jadi lebih simpel
Kenali soal gaya asuh lebih apik lewat konsultasi Kompas.com
JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam struktur perlindungan anak, rumah menempati posisi yang paling penting sebagai garda terdepan.
Lingkungan keluarga bukan sekadar tempat tinggal, melainkan sebuah ekosistem pertama yang menentukan bagaimana seorang anak akan tumbuh, berkembang, dan merasa aman di dunia luar.
Pentingnya menempatkan rumah sebagai pilar utama perlindungan anak ini ditekankan oleh Wakil Ketua Umum DPP PKB sekaligus pemerhati perempuan dan anak, Ida Fauziyah.
"Rumah adalah fondasi utama perlindungan kepada anak. Baru saya katakan sekolah, dan didukung oleh lingkungan. Begitu pentingnya rumah sebagai fondasi perlindungan kepada anak, maka dibutuhkan pola pengasuhan yang baik," ujar Ida dalam sebuah dialog bersama Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat RI di Fakultas Ilmu Kedokteran UI, Jumat (27/2/2026).
Menurutnya, sekolah dan lingkungan sosial hanya bisa memberikan dukungan optimal jika fondasi di dalam rumah sudah terbangun dengan kuat melalui pola asuh yang benar.
Baca juga: Pola Asuh Buruk, Masa Depan Anak Tidak Terang
Ilustrasi orangtua bersama anak. Psikolog menjelaskan bahwa rasa sedih melihat orangtua lembut ke cucu adalah duka kecil atas kebutuhan emosional masa lalu yang belum terpenuhi.Namun, ia menilai tantangan mengasuh anak tidak bisa hanya dibekali dengan satu kali sesi bimbingan sebelum menikah, melainkan butuh pembaruan ilmu yang terus-menerus.
Ibaratnya, kapasitas mental dan kesabaran orangtua mirip dengan daya baterai ponsel yang bisa menurun drastis akibat tekanan keseharian.
Baca juga: Kesulitan Ekonomi Bisa Berakibat Ibu Kesulitan Memberikan Pola Asuh yang Optimal
"Kita sebagai orangtua juga sangat perlu sekali untuk men-charge karena pengasuhan itu juga up and down. Kadang, ketika emosi, prinsip-prinsip pengasuhan agak diabaikan," ungkap Ida.
Oleh karena itu, orangtua perlu memiliki kesadaran untuk terus belajar dan memperbarui cara berkomunikasi dengan anak agar prinsip kasih sayang tidak hilang saat emosi sedang memuncak.
"Makanya parenting itu saya setuju tidak hanya dilakukan pranikah, tapi parenting dibutuhkan berkali-kali," tutur dia.
Baca juga: 6 Tanda Anak Sensitif yang Sering Tidak Disadari Orangtua
Ilustrasi orangtua.Perihal pengasuhan anak, Ida turut mengkritik budaya masyarakat Indonesia yang masih cenderung meletakkan beban pengasuhan hanya di pundak perempuan.
"Kalau anaknya nakal, pasti ngomong, 'ibunya siapa nih?'. Padaha sesungguhnya, pengasuhan itu adalah tanggung jawab orangtua, tanggung jawab bapak dan ibu, tanggung jawab bersama," tutur dia.
Stereotipe bahwa "ayah hanya mencari nafkah" dinilai sebagai bentuk pengabaian terhadap hak anak untuk mendapatkan kasih sayang dan figur pelindung dari kedua orangtuanya.
Baca juga: 10 Cara Menjadi Orangtua yang Lebih Dekat dengan Anak