JAKARTA, KOMPAS.com - Ketidakpastian global dan risiko gangguan pasokan listrik mendorong pelaku industri mulai memprioritaskan sistem energi yang lebih andal dan tangguh untuk menjaga keberlangsungan operasional.
Jika sebelumnya efisiensi biaya menjadi pertimbangan utama dalam pengadaan energi, kini banyak perusahaan mulai melihat pasokan listrik sebagai bagian dari strategi ketahanan bisnis jangka panjang.
Perubahan tersebut terjadi di tengah masih adanya risiko gangguan pasokan listrik dan keterbatasan akses jaringan listrik di sejumlah wilayah Indonesia. Bagi sektor industri, gangguan listrik dapat memicu kerugian besar akibat terhentinya proses produksi.
Baca juga: RI Perlu Perkuat Riset agar Hilirisasi Nikel Bisa Dukung Program PLTS 100 GW
Managing Director Xurya, Eka Himawan, mengatakan perusahaan kini tidak lagi memandang pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) hanya dari sisi penghematan biaya energi.
"PLTS kini dipandang sebagai salah satu solusi untuk membangun sistem energi yang lebih fleksibel, resilien, dan selaras dengan strategi keberlanjutan bisnis," ujar Eka dalam keterangan tertulis, Jumat (29/5/2026).
Menurut dia, kebutuhan tersebut terutama terlihat pada perusahaan yang beroperasi di wilayah terpencil. Bagi sektor ini, kemampuan menghasilkan listrik langsung di lokasi operasional menjadi faktor penting untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan bahan bakar maupun distribusi energi dari luar.
Dalam kondisi tertentu, PLTS juga dinilai dapat membantu menjaga operasional ketika akses menuju lokasi terganggu selama sumber energi matahari masih tersedia.
Selain faktor ketahanan energi, adopsi PLTS juga didorong tuntutan pasar. Sejumlah perusahaan berorientasi ekspor mulai memanfaatkan energi surya untuk mendukung pemenuhan standar keberlanjutan dan sertifikasi produk ramah lingkungan.
Sementara itu, sektor properti dan ritel juga mulai melirik penggunaan energi surya seiring meningkatnya permintaan penyewa terhadap bangunan yang lebih berkelanjutan.
Data menunjukkan pemanfaatan energi surya terus meningkat. Hingga Desember 2025, kapasitas terpasang PLTS nasional mencapai 1.494 megawatt (MW), mencerminkan meningkatnya penggunaan energi surya di sektor industri dan komersial.
Baca juga: PLTS 440 Megawatt Dibangun di Filipina, Telan Biaya Rp 5,23 Triliun
Ke depan, kebutuhan akan sistem energi yang lebih andal diperkirakan akan mendorong integrasi PLTS dengan teknologi penyimpanan energi berbasis baterai. Sistem ini dinilai penting bagi industri yang membutuhkan pasokan listrik tanpa gangguan, seperti pabrik elektronik, industri kaca, hingga rumah sakit.
Pelaku industri menilai transformasi menuju energi terbarukan tidak lagi hanya didorong pertimbangan lingkungan, tetapi juga kebutuhan membangun ketahanan energi yang mampu menopang operasional bisnis dalam jangka panjang.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya