Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Industri Mulai Lirik ke PLTS Demi Jaga Bisnis Tetap Jalan

Kompas.com, 29 Mei 2026, 15:11 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketidakpastian global dan risiko gangguan pasokan listrik mendorong pelaku industri mulai memprioritaskan sistem energi yang lebih andal dan tangguh untuk menjaga keberlangsungan operasional.

Jika sebelumnya efisiensi biaya menjadi pertimbangan utama dalam pengadaan energi, kini banyak perusahaan mulai melihat pasokan listrik sebagai bagian dari strategi ketahanan bisnis jangka panjang.

Perubahan tersebut terjadi di tengah masih adanya risiko gangguan pasokan listrik dan keterbatasan akses jaringan listrik di sejumlah wilayah Indonesia. Bagi sektor industri, gangguan listrik dapat memicu kerugian besar akibat terhentinya proses produksi.

Baca juga: RI Perlu Perkuat Riset agar Hilirisasi Nikel Bisa Dukung Program PLTS 100 GW

Managing Director Xurya, Eka Himawan, mengatakan perusahaan kini tidak lagi memandang pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) hanya dari sisi penghematan biaya energi.

"PLTS kini dipandang sebagai salah satu solusi untuk membangun sistem energi yang lebih fleksibel, resilien, dan selaras dengan strategi keberlanjutan bisnis," ujar Eka dalam keterangan tertulis, Jumat (29/5/2026).

Kurangi ketergantungan dari luar

Menurut dia, kebutuhan tersebut terutama terlihat pada perusahaan yang beroperasi di wilayah terpencil. Bagi sektor ini, kemampuan menghasilkan listrik langsung di lokasi operasional menjadi faktor penting untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan bahan bakar maupun distribusi energi dari luar.

Dalam kondisi tertentu, PLTS juga dinilai dapat membantu menjaga operasional ketika akses menuju lokasi terganggu selama sumber energi matahari masih tersedia.

Selain faktor ketahanan energi, adopsi PLTS juga didorong tuntutan pasar. Sejumlah perusahaan berorientasi ekspor mulai memanfaatkan energi surya untuk mendukung pemenuhan standar keberlanjutan dan sertifikasi produk ramah lingkungan.

Sementara itu, sektor properti dan ritel juga mulai melirik penggunaan energi surya seiring meningkatnya permintaan penyewa terhadap bangunan yang lebih berkelanjutan.

Data menunjukkan pemanfaatan energi surya terus meningkat. Hingga Desember 2025, kapasitas terpasang PLTS nasional mencapai 1.494 megawatt (MW), mencerminkan meningkatnya penggunaan energi surya di sektor industri dan komersial.

Baca juga: PLTS 440 Megawatt Dibangun di Filipina, Telan Biaya Rp 5,23 Triliun

Ke depan, kebutuhan akan sistem energi yang lebih andal diperkirakan akan mendorong integrasi PLTS dengan teknologi penyimpanan energi berbasis baterai. Sistem ini dinilai penting bagi industri yang membutuhkan pasokan listrik tanpa gangguan, seperti pabrik elektronik, industri kaca, hingga rumah sakit.

Pelaku industri menilai transformasi menuju energi terbarukan tidak lagi hanya didorong pertimbangan lingkungan, tetapi juga kebutuhan membangun ketahanan energi yang mampu menopang operasional bisnis dalam jangka panjang.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Desa Energi Berdikari Keliki, Wujudkan Ketahanan Pangan Berbasis Energi Bersih
Desa Energi Berdikari Keliki, Wujudkan Ketahanan Pangan Berbasis Energi Bersih
BUMN
Padukan Kearifan Lokal dan Sains, Muhammadiyah Resmikan Sekolah Berbasis Konservasi di Papua Barat
Padukan Kearifan Lokal dan Sains, Muhammadiyah Resmikan Sekolah Berbasis Konservasi di Papua Barat
LSM/Figur
Grup Astra Lirik PLTS Atap untuk Tekan Emisi dan Konsumsi Energi
Grup Astra Lirik PLTS Atap untuk Tekan Emisi dan Konsumsi Energi
Swasta
Karhutla di Sumsel capai 182,54 hektare pada Januari-April 2026
Karhutla di Sumsel capai 182,54 hektare pada Januari-April 2026
Pemerintah
Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
Pemerintah
BRIN Temukan 1.583 Spesies Baru Selama Hampir Enam Dekade Terakhir
BRIN Temukan 1.583 Spesies Baru Selama Hampir Enam Dekade Terakhir
Pemerintah
Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Pemerintah
Meriahkan Waisak 2026, DKI Jakarta Wujudkan Kota Inklusif lewat 'Illumination of Jakarta, Glow of Peace'
Meriahkan Waisak 2026, DKI Jakarta Wujudkan Kota Inklusif lewat "Illumination of Jakarta, Glow of Peace"
Pemerintah
Amazon, Google, Meta, dan Microsoft Kompak Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
Amazon, Google, Meta, dan Microsoft Kompak Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
Pemerintah
Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Pemerintah
Pagi Ini, Jakarta Masuk 10 Kota Paling Berpolusi di Dunia
Pagi Ini, Jakarta Masuk 10 Kota Paling Berpolusi di Dunia
Swasta
Perkuat Biodiversitas, Nuanu Creative City Tanam 1.000 Pohon Lokal
Perkuat Biodiversitas, Nuanu Creative City Tanam 1.000 Pohon Lokal
LSM/Figur
Bukit Asam Catat Lonjakan Emisi Operasional Batu Bara dalam 5 Tahun Terakhir
Bukit Asam Catat Lonjakan Emisi Operasional Batu Bara dalam 5 Tahun Terakhir
BUMN
Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja 'Toxic'
Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja "Toxic"
Swasta
Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global
Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau