Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Proyek Energi Terbarukan dengan Baterai di Eropa Naik 450 Persen pada 2030

Kompas.com, 12 Mei 2026, 15:16 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Penelitian terbaru menunjukkan bahwa proyek energi terbarukan di Eropa yang dilengkapi dengan penyimpanan baterai diperkirakan akan tumbuh lebih dari 450 persen pada tahun 2030.

Hal ini terjadi karena para pengembang menghadapi masalah kemacetan jaringan listrik, turunnya harga listrik, dan seringnya pembuangan energi bersih yang tidak terpakai.

Informasi ini berasal dari laporan baru perusahaan analisis energi, Aurora Energy Research, yang mempelajari aturan dan peluang keuntungan di 20 pasar negara Eropa.

Melansir Edie, Senin (11/5/2026) menurut laporan tersebut, kapasitas energi terbarukan di Eropa yang digabungkan dengan baterai mencapai 6,3 gigawatt (GW) pada tahun 2025.

Baca juga: Energi Terbarukan Ciptakan 6-10 Juta Green Jobs pada 2060, Tapi Pekerja RI Sulit Direkrut

Sebagian besar dari jumlah ini, yaitu lebih dari 60 persen, berasal dari proyek tenaga surya yang dipasangkan dengan penyimpanan baterai. Saat ini, terdapat lebih dari 1.600 GW kapasitas energi bersih dan baterai yang sedang mengantre untuk tersambung ke jaringan kabel listrik di seluruh benua Eropa, termasuk sekitar 550 GW yang berada di Inggris saja.

Aurora memperkirakan sebagian besar proyek yang direncanakan akan mulai beroperasi dalam lima tahun ke depan, dengan Spanyol, Inggris, dan Jerman sebagai pemimpin dalam jumlah kapasitas yang terpasang.

Laporan tersebut menjelaskan dua kemungkinan jalan bagi sektor ini pada tahun 2030.

Dalam skenario pertama, kebijakan yang lebih cepat dan seragam di seluruh Eropa akan mendorong kapasitas energi terbarukan yang digabung dengan baterai hingga melampaui 35 GW, serta menjadikannya standar utama dalam industri.

Sedangkan skenario kedua, keterlambatan aturan dan hambatan pasokan barang dapat memperlambat pemasangan, sehingga pertumbuhan hanya berfokus di beberapa pasar negara yang paling maju saja.

Penyimpanan energi terbarukan dengan baterai

Di beberapa pasar, para pengembang semakin banyak yang memasangkan baterai dengan energi terbarukan untuk mempermudah akses ke jaringan listrik dan menekan biaya operasional.

Fenomena harga listrik negatif (harganya bisa turun hingga di bawah nol) juga menjadi semakin umum seiring dengan meluasnya pembangkit listrik tenaga ramah lingkungan.

Spanyol, Belanda, dan Jerman masing-masing mencatatkan lebih dari 500 jam harga negatif sepanjang tahun 2025.

Lebih lanjut, Aurora memperkirakan bahwa harga jual listrik tenaga surya di wilayah Iberia seperti Spanyol dan Portugal bisa turun hampir 50 persen pada tahun 2030. Sementara itu, nilai jual listrik dari kincir angin di daratan Jerman diperkirakan akan berkurang lebih dari 25 persen.

Pembuangan energi yang tidak terpakai diprediksi akan naik tajam karena jaringan listrik sulit menampung hasil produksi energi terbarukan yang terus bertambah.

Baca juga: Energi Terbarukan Lebih Murah dari Teknologi DAC untuk Kurangi Emisi Karbon

Laporan tersebut memperkirakan jumlah energi bersih yang terbuang di pasar-pasar utama Eropa akan melonjak dari 10 terawatt-hour (TWh) pada tahun 2024 menjadi sekitar 33 TWh pada tahun 2030.

Penyimpanan baterai kini semakin dianggap sebagai cara untuk melindungi keuntungan proyek dengan cara memindahkan waktu penjualan listrik ke jam-jam saat harga sedang tinggi dan mengurangi energi yang terbuang sia-sia.

Menurut Badan Energi Terbarukan Internasional (IRENA), biaya penyimpanan baterai telah turun sebesar 93 persen sejak tahun 2010. Hal ini membuat sistem energi terbarukan gabungan menjadi semakin mampu bersaing dengan pembangkit listrik berbahan bakar fosil.

"Menggabungkan pembangkit listrik dengan baterai bukan lagi sekadar solusi sampingan. Cara ini menjadi semakin penting untuk menjaga keuntungan proyek dan menjaga agar investasi terus berjalan," ungkap analis senior Aurora Energy Research, Sameer Hussain.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Desa Energi Berdikari Keliki, Wujudkan Ketahanan Pangan Berbasis Energi Bersih
Desa Energi Berdikari Keliki, Wujudkan Ketahanan Pangan Berbasis Energi Bersih
BUMN
Padukan Kearifan Lokal dan Sains, Muhammadiyah Resmikan Sekolah Berbasis Konservasi di Papua Barat
Padukan Kearifan Lokal dan Sains, Muhammadiyah Resmikan Sekolah Berbasis Konservasi di Papua Barat
LSM/Figur
Grup Astra Lirik PLTS Atap untuk Tekan Emisi dan Konsumsi Energi
Grup Astra Lirik PLTS Atap untuk Tekan Emisi dan Konsumsi Energi
Swasta
Karhutla di Sumsel capai 182,54 hektare pada Januari-April 2026
Karhutla di Sumsel capai 182,54 hektare pada Januari-April 2026
Pemerintah
Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
Pemerintah
BRIN Temukan 1.583 Spesies Baru Selama Hampir Enam Dekade Terakhir
BRIN Temukan 1.583 Spesies Baru Selama Hampir Enam Dekade Terakhir
Pemerintah
Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Pemerintah
Meriahkan Waisak 2026, DKI Jakarta Wujudkan Kota Inklusif lewat 'Illumination of Jakarta, Glow of Peace'
Meriahkan Waisak 2026, DKI Jakarta Wujudkan Kota Inklusif lewat "Illumination of Jakarta, Glow of Peace"
Pemerintah
Amazon, Google, Meta, dan Microsoft Kompak Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
Amazon, Google, Meta, dan Microsoft Kompak Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
Pemerintah
Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Pemerintah
Pagi Ini, Jakarta Masuk 10 Kota Paling Berpolusi di Dunia
Pagi Ini, Jakarta Masuk 10 Kota Paling Berpolusi di Dunia
Swasta
Perkuat Biodiversitas, Nuanu Creative City Tanam 1.000 Pohon Lokal
Perkuat Biodiversitas, Nuanu Creative City Tanam 1.000 Pohon Lokal
LSM/Figur
Bukit Asam Catat Lonjakan Emisi Operasional Batu Bara dalam 5 Tahun Terakhir
Bukit Asam Catat Lonjakan Emisi Operasional Batu Bara dalam 5 Tahun Terakhir
BUMN
Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja 'Toxic'
Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja "Toxic"
Swasta
Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global
Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau