KOMPAS.com - Penelitian terbaru menunjukkan bahwa proyek energi terbarukan di Eropa yang dilengkapi dengan penyimpanan baterai diperkirakan akan tumbuh lebih dari 450 persen pada tahun 2030.
Hal ini terjadi karena para pengembang menghadapi masalah kemacetan jaringan listrik, turunnya harga listrik, dan seringnya pembuangan energi bersih yang tidak terpakai.
Informasi ini berasal dari laporan baru perusahaan analisis energi, Aurora Energy Research, yang mempelajari aturan dan peluang keuntungan di 20 pasar negara Eropa.
Melansir Edie, Senin (11/5/2026) menurut laporan tersebut, kapasitas energi terbarukan di Eropa yang digabungkan dengan baterai mencapai 6,3 gigawatt (GW) pada tahun 2025.
Baca juga: Energi Terbarukan Ciptakan 6-10 Juta Green Jobs pada 2060, Tapi Pekerja RI Sulit Direkrut
Sebagian besar dari jumlah ini, yaitu lebih dari 60 persen, berasal dari proyek tenaga surya yang dipasangkan dengan penyimpanan baterai. Saat ini, terdapat lebih dari 1.600 GW kapasitas energi bersih dan baterai yang sedang mengantre untuk tersambung ke jaringan kabel listrik di seluruh benua Eropa, termasuk sekitar 550 GW yang berada di Inggris saja.
Aurora memperkirakan sebagian besar proyek yang direncanakan akan mulai beroperasi dalam lima tahun ke depan, dengan Spanyol, Inggris, dan Jerman sebagai pemimpin dalam jumlah kapasitas yang terpasang.
Laporan tersebut menjelaskan dua kemungkinan jalan bagi sektor ini pada tahun 2030.
Dalam skenario pertama, kebijakan yang lebih cepat dan seragam di seluruh Eropa akan mendorong kapasitas energi terbarukan yang digabung dengan baterai hingga melampaui 35 GW, serta menjadikannya standar utama dalam industri.
Sedangkan skenario kedua, keterlambatan aturan dan hambatan pasokan barang dapat memperlambat pemasangan, sehingga pertumbuhan hanya berfokus di beberapa pasar negara yang paling maju saja.
Di beberapa pasar, para pengembang semakin banyak yang memasangkan baterai dengan energi terbarukan untuk mempermudah akses ke jaringan listrik dan menekan biaya operasional.
Fenomena harga listrik negatif (harganya bisa turun hingga di bawah nol) juga menjadi semakin umum seiring dengan meluasnya pembangkit listrik tenaga ramah lingkungan.
Spanyol, Belanda, dan Jerman masing-masing mencatatkan lebih dari 500 jam harga negatif sepanjang tahun 2025.
Lebih lanjut, Aurora memperkirakan bahwa harga jual listrik tenaga surya di wilayah Iberia seperti Spanyol dan Portugal bisa turun hampir 50 persen pada tahun 2030. Sementara itu, nilai jual listrik dari kincir angin di daratan Jerman diperkirakan akan berkurang lebih dari 25 persen.
Pembuangan energi yang tidak terpakai diprediksi akan naik tajam karena jaringan listrik sulit menampung hasil produksi energi terbarukan yang terus bertambah.
Baca juga: Energi Terbarukan Lebih Murah dari Teknologi DAC untuk Kurangi Emisi Karbon
Laporan tersebut memperkirakan jumlah energi bersih yang terbuang di pasar-pasar utama Eropa akan melonjak dari 10 terawatt-hour (TWh) pada tahun 2024 menjadi sekitar 33 TWh pada tahun 2030.
Penyimpanan baterai kini semakin dianggap sebagai cara untuk melindungi keuntungan proyek dengan cara memindahkan waktu penjualan listrik ke jam-jam saat harga sedang tinggi dan mengurangi energi yang terbuang sia-sia.
Menurut Badan Energi Terbarukan Internasional (IRENA), biaya penyimpanan baterai telah turun sebesar 93 persen sejak tahun 2010. Hal ini membuat sistem energi terbarukan gabungan menjadi semakin mampu bersaing dengan pembangkit listrik berbahan bakar fosil.
"Menggabungkan pembangkit listrik dengan baterai bukan lagi sekadar solusi sampingan. Cara ini menjadi semakin penting untuk menjaga keuntungan proyek dan menjaga agar investasi terus berjalan," ungkap analis senior Aurora Energy Research, Sameer Hussain.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya