Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim

Kompas.com, 8 Mei 2026, 18:35 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) bersama UN Women meluncurkan Kampanye Tahun Internasional Petani Perempuan untuk meningkatkan ketahanan pangan di tengah krisis iklim.

Kedua bandan PBB itu menyelenggarakan pelatihan dan dialog kebijakan guna memperkuat suara petani perempuan serta mendorong kepemimpinannya untuk mengembangkan pertanian yang tangguh.

Inisiatif ini akan diperluas ke berbagai wilayah lain di Indonesia sepanjang 2026, dengan titik awal di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

“Memberdayakan petani perempuan berarti memberdayakan komunitas. Pengetahuan, pengalaman, dan aksi berbasis komunitas yang mereka lakukan sangat penting dalam mengatasi perubahan iklim dan ketahanan pangan, dua tantangan pembangunan terbesar saat ini,” kata UN Women Indonesia Representative and Liaison to ASEAN, Ulziisuren Jamsran dalam keterangannya, Jumat (8/5/2026).

Baca juga: Kisah Petani Tambak Bisa Produksi Garam, Rumput Laut, Air Minum, dan Listrik Sekaligus

Dia menambahkan, Tahun Petani Perempuan adalah momentum menunjukkan kontribusi nyata petani perempuan, mengakui kepemimpinan, serta meruntuhkan hambatan yang selama ini menghalangi kemajuan mereka.

"Demi mewujudkan masa depan yang berkelanjutan bagi semua," imbuh Jamsran.

Dalam dialog kebijakan tersebut, petani perempuan menekankan upaya memajukan pertanian cerdas iklim memerlukan kolaborasi yang kuat antar pemangku kepentingan dengan partisipasi bermakna dari perempuan dan orang muda.

Pangan lokal, lumbung pangan, hingga metode penyimpanan tradisional untuk benih dan hasil panen perlu diperkuat.

“Sebagai perempuan, kami sangat membutuhkan informasi dan pengetahuan praktis tentang langkah-langkah konkret yang dapat kami lakukan untuk memitigasi dan beradaptasi terhadap perubahan iklim,” ungkap Ketua Aliansi Perempuan Indonesia Mandiri (APIR) Kabupaten Manggarai Barat, Siti Sadyatun.

Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari rangkaian inisiatif untuk memperkuat ketahanan iklim dan kepemimpinan perempuan di Nusa Tenggara Timur melalui program EmPower, yang dilaksanakan oleh UN Women bersama dengan United Nations Environment Programme (UNEP) dengan dukungan dari Pemerintah Swedia, Jerman, Swiss, dan Selandia Baru.

PBB sendiri telah menetapkan 2026 sebagai Tahun Internasional Petani Perempuan untuk menyoroti kesenjangan gender yang dihadapi petani perempuan. Selain itu, mendorong reformasi kebijakan dan investasi untuk memajukan kesetaraan gender dan memberdayakan perempuan dalam sistem pangan dan pertanian.

Baca juga: Jejak Komoditas pada Lonjakan Kesejahteraan Petani

Ketidaksetaraan Gender Sektor Pertanian 

Menurut FAO, perempuan mencakup 41 persen tenaga kerja global di sektor pangan dan pertanian. Namun, perempuan di pedesaan mengalami kontrak kerja yang tidak tetap, buruknya kondisi kerja, hingga keterbatasan hak. Secara global petani perempuan mengelola lahan yang lebih kecil dibandingkan laki-laki, dengan kesenjangan gender dalam produktivitas lahan mencapai 24 persen. Meski demikian, mereka hanya mendapatkan 82 sen untuk setiap 1 dollar AS yang dihasilkan oleh laki-laki.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan 38 persen atau sekitar 14,81 juta orang dari total tenaga kerja di sektor pertanian Indonesia adalah perempuan. Ketidaksetaraan akses terhadap lahan, pelatihan, dan layanan keuangan membuat perempuan kesulitan mencegah ataupun beradaptasi dengn dampak perubahan iklim yang pada akhirnya mengancam mata pencaharian mereka.

Oleh karenanya, FAO dan UN Women akan mengembangkan kapasitas petani perempuan melalui berbagai keterampilan praktis sebagai bagian dari kampanye ini. Pelatihan yang dilakukan mencakup pertanian berkelanjutan, pengolahan dan pemasaran bernilai tambah, literasi keuangan, hingga kepemimpinan perempuan, guna membantu mereka mencegah dan mengurangi dampak perubahan iklim.

“Dampak perubahan iklim tidak bersifat netral gender. Laporan FAO menunjukkan bahwa perempuan mengalami kerugian finansial yang lebih besar akibat guncangan iklim seperti gelombang panas atau banjir, bahkan mencapai miliaran dolar setiap tahun, dan mereka harus bekerja lebih panjang dibandingkan laki-laki,” sebut Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor Leste, Rajendra Aryal.

Laporan FAO berjudul The Unjust Climate (Perubahan Iklim yang Tak Berkeadilan) mencatat rumah tangga yang dikepalai perempuan kehilangan 8 persen lebih banyak pendapatan dibandingkan rumah tangga yang dikepalai laki-laki akibat cekaman panas, dengan total kerugian mencapai 37 miliar dolar AS per tahun di negara berpendapatan rendah dan menengah.

Baca juga: Cerita Urban Farming Dinas Ketahanan Pangan Kota Cirebon, 17 Ayam Petelur Diberi Nama Unik

Banjir juga berimbas pada penurunan pendapatan rumah tangga yang dikepalai perempuan sebesar 3 persen, atau sekitar 16 miliar dolar AS per tahun dibandingkan rumah tangga yang dikepalai laki-laki.

Laporan ini menyebutkan, kenaikan suhu sebesar 1 derajat celsius dapat menyebabkan rumah tangga yang dikepalai perempuan kehilangan hingga 34 persen pendapatan mereka dibandingkan dengan rumah tangga yang dikepalai laki-laki.

Tahun Internasional Petani Perempuan diharapkan dapat mendorong aksi di tingkat nasional, termasuk memastikan petani perempuan diakui sebagai aktor kunci dalam ketahanan pangan dan gizi serta ketahanan mata pencaharian di pedesaan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Desa Energi Berdikari Keliki, Wujudkan Ketahanan Pangan Berbasis Energi Bersih
Desa Energi Berdikari Keliki, Wujudkan Ketahanan Pangan Berbasis Energi Bersih
BUMN
Padukan Kearifan Lokal dan Sains, Muhammadiyah Resmikan Sekolah Berbasis Konservasi di Papua Barat
Padukan Kearifan Lokal dan Sains, Muhammadiyah Resmikan Sekolah Berbasis Konservasi di Papua Barat
LSM/Figur
Grup Astra Lirik PLTS Atap untuk Tekan Emisi dan Konsumsi Energi
Grup Astra Lirik PLTS Atap untuk Tekan Emisi dan Konsumsi Energi
Swasta
Karhutla di Sumsel capai 182,54 hektare pada Januari-April 2026
Karhutla di Sumsel capai 182,54 hektare pada Januari-April 2026
Pemerintah
Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
Pemerintah
BRIN Temukan 1.583 Spesies Baru Selama Hampir Enam Dekade Terakhir
BRIN Temukan 1.583 Spesies Baru Selama Hampir Enam Dekade Terakhir
Pemerintah
Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Pemerintah
Meriahkan Waisak 2026, DKI Jakarta Wujudkan Kota Inklusif lewat 'Illumination of Jakarta, Glow of Peace'
Meriahkan Waisak 2026, DKI Jakarta Wujudkan Kota Inklusif lewat "Illumination of Jakarta, Glow of Peace"
Pemerintah
Amazon, Google, Meta, dan Microsoft Kompak Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
Amazon, Google, Meta, dan Microsoft Kompak Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
Pemerintah
Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Pemerintah
Pagi Ini, Jakarta Masuk 10 Kota Paling Berpolusi di Dunia
Pagi Ini, Jakarta Masuk 10 Kota Paling Berpolusi di Dunia
Swasta
Perkuat Biodiversitas, Nuanu Creative City Tanam 1.000 Pohon Lokal
Perkuat Biodiversitas, Nuanu Creative City Tanam 1.000 Pohon Lokal
LSM/Figur
Bukit Asam Catat Lonjakan Emisi Operasional Batu Bara dalam 5 Tahun Terakhir
Bukit Asam Catat Lonjakan Emisi Operasional Batu Bara dalam 5 Tahun Terakhir
BUMN
Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja 'Toxic'
Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja "Toxic"
Swasta
Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global
Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau