Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
PEMERINTAH menyebut iklim Indonesia tahun ini “normal”. Namun di lapangan, yang dirasakan justru sebaliknya: hujan datang lebih awal, berlangsung lebih lama, lalu menghilang tanpa pola yang jelas.
Di beberapa tempat, banjir terjadi di luar musimnya. Di tempat lain, kekeringan justru muncul ketika hujan seharusnya turun.
Ini bukan sekadar perubahan cuaca. Ini adalah tanda bahwa kita sedang hidup dalam iklim yang tidak lagi bisa diprediksi.
Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa musim hujan 2025/2026 datang lebih awal di sekitar 42 persen wilayah Indonesia dan berlangsung lebih panjang dari biasanya.
Namun pada saat yang sama, sekitar 94,7 persen wilayah Indonesia tetap dikategorikan memiliki curah hujan “normal”.
Di sinilah paradoks itu muncul: secara statistik normal, tetapi secara pengalaman tidak normal.
Baca juga: Buruh Berpendidikan: Setelah Dapat Kerja, Masih Cari Kerja
Selama ini, kita memahami iklim melalui angka rata-rata—total curah hujan tahunan, suhu rata-rata, atau kategori “normal”. Pendekatan ini memberi kesan stabilitas. Seolah-olah selama angka-angka itu tidak berubah drastis, maka kondisi masih terkendali.
Padahal, yang berubah bukan hanya angka rata-rata, melainkan perilaku sistem iklim itu sendiri.
Laporan World Meteorological Organization (WMO) menunjukkan bahwa sistem iklim global kini mengalami peningkatan variabilitas, ditandai oleh semakin sering dan intensnya kejadian cuaca ekstrem.
Sementara itu, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menegaskan bahwa pemanasan global tidak hanya meningkatkan suhu, tetapi juga memperbesar ketidakpastian pola curah hujan dan kejadian ekstrem.
Dengan kata lain, dunia tidak hanya menjadi lebih panas—tetapi juga lebih tidak terduga.
Indonesia berada di garis depan perubahan ini.
Sebagai negara tropis yang dipengaruhi oleh berbagai sistem iklim—monsun, ENSO (El Niño–La Niña), hingga dinamika suhu laut—kita sangat sensitif terhadap perubahan kecil dalam sistem global.
Data BMKG menunjukkan bahwa kondisi La Niña lemah yang berlangsung hingga awal 2026, berkontribusi pada peningkatan curah hujan di sejumlah wilayah.
Namun dalam waktu yang relatif singkat, sistem ini bergerak menuju fase netral, bahkan berpotensi ke El Niño.
Artinya, dalam satu tahun, kita bisa berpindah dari kondisi lebih basah ke lebih kering. Bukan perubahan bertahap, melainkan fluktuasi.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya