JAKARTA, KOMPAS.com - Pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) satu-satunya energi terbarukan yang dapat menjadi base load yang mampu beroperasi secara terus-menerus.
Kemampuan tersebut menyamai kapasitas pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang juga mampu menjadi base load untuk produksi dalam jumlah besar dan stabil.
Namun, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Ariyo DP Irhamna mengingatkan, bahwa menyamakan dampak lingkungan PLTP dengan PLTU batubara bisa bermasalah.
Baca juga: Panas Bumi Tak Sekadar Listrik, Peluang Ekonomi Masyarakat Terbuka
"Menyamakan dampak lingkungan PLTP dengan PLTU batu bara menurut saya false. Justru bisa menghambat transisi energi," ujar Ariyo dalam diskusi Saat Rakyat Tertekan, Industri Fosil Untung, Karena Itu Windfall Tax sebagai Ujian Keberanian Negara, Kamis (30/4/2026).
Menurut Ariyo, ada dua kemungkinan yang bisa terjadi jika Indonesia ingin mengoptimalkan potensi PLTP sebagai base load untuk transisi energi.
Pertama, dari sisi teknisnya, siapa pun pengembang PLTP, selalu membutuhkan waktu yang cukup lama. Indonesia perlu mengeksplorasi lebih jauh bagaimana memanfaatkan energi panas bumi.
Kedua, dari aspek mitigasi risiko krisis iklim, yang mana emisi gas rumah kaca (GRK) dari PLTP sekitar 15-60 gram CO2 per kWh. Sedangkan emisi GRK dari PLTU batu bara sebesar 800-1.000 gram CO2 per kWh.
"Air yang digunakan juga jauh lebih sedikit, per megawatt-nya dibandingkan tambang, (PLTU) batu bara," ucapnya.
Selain PLTP, Ariyo mengingatkan, pembangkit listrik energi terbarukan lainnya sesunguhnya juga memiliki dampak emisi GRK.
Baca juga: PGE Area Ulubelu Bangun Jembatan Ulu Semong dari Bonus Produksi Panas Bumi
"Kalau bicara zero impact secara emisi, enggak ada sebenarnya. Kita pasang panel surya, kita butuh tambang silikon, lithium, kan? Pertanyaan utamanya sebenarnya bukan apakah dampaknya itu nol?. Tapi, seberapa besar kerusakannya relatif terhadap alternatifnya? Jadi pada skala itu, eh, dampak panas bumi itu lebih rendah dampaknya dibandingkan fosil," ujar Ariyo.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya