Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

SmartBioBin, Tong Sampah yang Bisa Pisahkan Limbah dengan Sensor

Kompas.com, 9 April 2026, 16:19 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Guru SMAN 1 Ciawi, Fanny Nadia Hardjo, merancang tong sampah yang dapat memilah jenis limbah sejak awal yang dinamai SmartBioBin.

Ia mengaku menciptakan SmartBioBin lantaran tempat sampah di sekolah umumnya hanya berfungsi menampung bukan memilah. Proses pemisahan hanya dilakukan oleh petugas kebersihan yang waktu dan tenaganya terbatas.

“Ide sederhananya, pemilahan tidak boleh menunggu sore hari. Proses itu harus terjadi di detik pertama sampah masuk,” ujar Fanny dalam keterangannya, Kamis (9/4/2026).

Baca juga: Danantara Siapkan Platform Investasi Energi Berbasis Sampah

Dia menambahkan, alat tersebut bekerja dengan sensor untuk mengenali jenis sampah sejak pertama kali dibuang.

Sampah organik diarahkan ke wadah pengomposan, sedangkan plastik masuk ke mesin pencacah sehingga bisa dimanfaatkan kembali. Dengan cara ini, volume sampah yang harus dikirim ke tempat pembuangan akhir (TPA) bisa berkurang.

Meski berbasis artificial intelligence (AI), tantangan terbesar SmartBioBin justru bukan pada mesinnya, melainkan kebiasaan para pengguna.

Fanny menyadari, secanggih apapun alat yang digunakan manfaatnya akan terbatas jika warga sekolah tetap menganggap sampah bukan menjadi bagian dari tanggung jawab mereka.

Temuan awal yang ia dapat dari observasi memperlihatkan persoalan yang menjadi dasar dari permasalahan ini. Selama ini, tanggung jawab memilah dan membersihkan sampah lebih banyak bertumpu pada petugas kebersihan.

Baca juga: Menteri LH: Pengelolaan Sampah Naik Jadi 26 Persen Dibanding 2024

Sementara itu, keterlibatan siswa masih sangat minim dalam persoalan ini. Baginya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa masalah sampah di sekolah bukan sekadar urusan teknis, melainkan juga soal kesadaran dan pembagian peran.

Karenanya, Fanny melibatkan beberapa siswa sebagai tim pendukung untuk uji coba dan pendampingan penggunaan alat ini. Diskusi tentang jenis sampah, manfaat kompos, hingga cara kerja sensor perlahan membuka percakapan baru di lingkungan sekolah.

“Sebagai guru, saya ingin anak-anak belajar bahwa memilah sampah itu bukan tugas tambahan, tapi bagian dari tanggung jawab sehari-hari,” tutur Fanny.

Proyek tersebut kemudian dipresentasikan dalam ASRI Awards 2026 dan berhasil menjadi The Most Sustainable Idea. Dari kompetisi ini, Fanny memperoleh banyak masukan untuk penyempurnaan sistem, sekaligus peluang kolaborasi dengan pihak eksternal seperti Dinas Lingkungan Hidup.

Pertemuan dengan peserta lain dari berbagai daerah juga meninggalkan kesan kuat. Ia merasa apa yang dikerjakannya masih bisa dikembangkan lebih jauh dan tidak berhenti di lingkup sekolah saja.

Fanny lantas berharap ada kerja sama yang lebih luas agar siswa dapat terlibat langsung dalam praktik pengelolaan sampah secara nyata karena pengalaman kontekstual akan jauh lebih efektif daripada sekadar teori di kelas.

Bagi dirinya, SmartBioBin bukanlah akhir, melainkan cara sederhana untuk mengingatkan bahwa sampah di sekolah seharusnya menjadi tanggung jawab semua orang.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Desa Energi Berdikari Keliki, Wujudkan Ketahanan Pangan Berbasis Energi Bersih
Desa Energi Berdikari Keliki, Wujudkan Ketahanan Pangan Berbasis Energi Bersih
BUMN
Padukan Kearifan Lokal dan Sains, Muhammadiyah Resmikan Sekolah Berbasis Konservasi di Papua Barat
Padukan Kearifan Lokal dan Sains, Muhammadiyah Resmikan Sekolah Berbasis Konservasi di Papua Barat
LSM/Figur
Grup Astra Lirik PLTS Atap untuk Tekan Emisi dan Konsumsi Energi
Grup Astra Lirik PLTS Atap untuk Tekan Emisi dan Konsumsi Energi
Swasta
Karhutla di Sumsel capai 182,54 hektare pada Januari-April 2026
Karhutla di Sumsel capai 182,54 hektare pada Januari-April 2026
Pemerintah
Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
Pemerintah
BRIN Temukan 1.583 Spesies Baru Selama Hampir Enam Dekade Terakhir
BRIN Temukan 1.583 Spesies Baru Selama Hampir Enam Dekade Terakhir
Pemerintah
Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Pemerintah
Meriahkan Waisak 2026, DKI Jakarta Wujudkan Kota Inklusif lewat 'Illumination of Jakarta, Glow of Peace'
Meriahkan Waisak 2026, DKI Jakarta Wujudkan Kota Inklusif lewat "Illumination of Jakarta, Glow of Peace"
Pemerintah
Amazon, Google, Meta, dan Microsoft Kompak Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
Amazon, Google, Meta, dan Microsoft Kompak Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
Pemerintah
Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Pemerintah
Pagi Ini, Jakarta Masuk 10 Kota Paling Berpolusi di Dunia
Pagi Ini, Jakarta Masuk 10 Kota Paling Berpolusi di Dunia
Swasta
Perkuat Biodiversitas, Nuanu Creative City Tanam 1.000 Pohon Lokal
Perkuat Biodiversitas, Nuanu Creative City Tanam 1.000 Pohon Lokal
LSM/Figur
Bukit Asam Catat Lonjakan Emisi Operasional Batu Bara dalam 5 Tahun Terakhir
Bukit Asam Catat Lonjakan Emisi Operasional Batu Bara dalam 5 Tahun Terakhir
BUMN
Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja 'Toxic'
Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja "Toxic"
Swasta
Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global
Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau