Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

BMKG Prediksi Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Produksi Sawit Bisa Tertekan

Kompas.com, 1 April 2026, 22:02 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau pada 2026 datang lebih awal di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi ini berpotensi menekan produksi kelapa sawit nasional serta meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Berdasarkan laporan "Outlook Industri Sawit Indonesia Q2 2026" yang diterbitkan Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS), triwulan kedua tahun ini menjadi fase transisi yang krusial dari kondisi kelebihan air menuju ancaman kekeringan.

Masa transisi yang singkat dinilai mempersempit waktu pemulihan infrastruktur perkebunan, termasuk pengaturan pemupukan, pengelolaan air, hingga kesiapsiagaan menghadapi musim kering.

Baca juga: Bisakah Kebun Kelapa Sawit Jadi Hutan Lagi? Ini Penjelasan KLH Soal Reforestasi

Akibatnya, gangguan iklim tidak hanya berdampak pada produktivitas, tetapi juga mulai memengaruhi stabilitas operasional perkebunan secara keseluruhan.

Secara agregat, produksi kelapa sawit nasional pada Q2 2026 diproyeksikan mencapai sekitar 12,84 juta ton, sedikit menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 12,94 juta ton.

Penurunan ini mencerminkan dampak kombinasi antara pemulihan pascabanjir yang belum tuntas dan tekanan kekeringan di awal musim kemarau.

Dalam perspektif neraca pasokan dan permintaan, pelemahan produksi tersebut berpotensi mempersempit surplus yang sejak awal relatif terbatas, sehingga meningkatkan sensitivitas harga terhadap dinamika global.

Wilayah sentra produksi di Sumatera bagian tengah dan selatan, serta sebagian Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, dinilai perlu mendapat perhatian khusus karena memiliki sensitivitas tinggi terhadap perubahan neraca air.

Selain itu, percepatan musim kemarau juga meningkatkan risiko water stress, menurunkan efisiensi pemupukan, serta memperbesar potensi kebakaran, terutama di kawasan lahan gambut.

Perkebunan sawit di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah diperkirakan menghadapi tekanan lebih besar, mulai dari gangguan distribusi tandan buah segar (TBS) hingga peningkatan biaya mitigasi di tingkat kebun dan pabrik.

Baca juga: Akademisi IPB: Limbah Sawit Potensial jadi Produk Bernilai Tambah

IPOSS menilai kombinasi antara kemarau yang datang lebih awal, puncak musim kering yang lebih cepat, serta durasi kemarau yang lebih panjang menjadikan risiko pada 2026 semakin kompleks bagi industri sawit.

Berpotensi Ulang Dampak El Nino 2015

Kepala Divisi Riset IPOSS, Dimas H. Pamungkas, mengatakan dampak perubahan iklim pada 2026 tidak merata di setiap wilayah. Kalimantan Selatan, Lampung, dan Sulawesi Tenggara disebut sebagai daerah dengan risiko paling tinggi terdampak kemarau.

Ia mengingatkan, skenario terburuk dari kondisi saat ini adalah terulangnya dampak El Nino 2015, yang memicu kebakaran hutan dan lahan secara luas.

“Begitu ada karhutla, cakupan sinar matahari berkurang karena tertutup asap. Tanaman mengalami stres akibat panas dan kurang cahaya, sehingga produksi sawit nasional pada 2016 turun signifikan,” ujar Dimas dikutip Rabu (1/4/2026).

Baca juga: BRIN-Agrinas Palma Perkuat Riset Inovasi Industri Sawit Berkelanjutan

Menurut dia, jika periode kemarau berlangsung lebih panjang dari biasanya, maka tekanan terhadap tanaman, sistem perkebunan, hingga rantai logistik akan semakin besar.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Desa Energi Berdikari Keliki, Wujudkan Ketahanan Pangan Berbasis Energi Bersih
Desa Energi Berdikari Keliki, Wujudkan Ketahanan Pangan Berbasis Energi Bersih
BUMN
Padukan Kearifan Lokal dan Sains, Muhammadiyah Resmikan Sekolah Berbasis Konservasi di Papua Barat
Padukan Kearifan Lokal dan Sains, Muhammadiyah Resmikan Sekolah Berbasis Konservasi di Papua Barat
LSM/Figur
Grup Astra Lirik PLTS Atap untuk Tekan Emisi dan Konsumsi Energi
Grup Astra Lirik PLTS Atap untuk Tekan Emisi dan Konsumsi Energi
Swasta
Karhutla di Sumsel capai 182,54 hektare pada Januari-April 2026
Karhutla di Sumsel capai 182,54 hektare pada Januari-April 2026
Pemerintah
Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
Pemerintah
BRIN Temukan 1.583 Spesies Baru Selama Hampir Enam Dekade Terakhir
BRIN Temukan 1.583 Spesies Baru Selama Hampir Enam Dekade Terakhir
Pemerintah
Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Pemerintah
Meriahkan Waisak 2026, DKI Jakarta Wujudkan Kota Inklusif lewat 'Illumination of Jakarta, Glow of Peace'
Meriahkan Waisak 2026, DKI Jakarta Wujudkan Kota Inklusif lewat "Illumination of Jakarta, Glow of Peace"
Pemerintah
Amazon, Google, Meta, dan Microsoft Kompak Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
Amazon, Google, Meta, dan Microsoft Kompak Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
Pemerintah
Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Pemerintah
Pagi Ini, Jakarta Masuk 10 Kota Paling Berpolusi di Dunia
Pagi Ini, Jakarta Masuk 10 Kota Paling Berpolusi di Dunia
Swasta
Perkuat Biodiversitas, Nuanu Creative City Tanam 1.000 Pohon Lokal
Perkuat Biodiversitas, Nuanu Creative City Tanam 1.000 Pohon Lokal
LSM/Figur
Bukit Asam Catat Lonjakan Emisi Operasional Batu Bara dalam 5 Tahun Terakhir
Bukit Asam Catat Lonjakan Emisi Operasional Batu Bara dalam 5 Tahun Terakhir
BUMN
Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja 'Toxic'
Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja "Toxic"
Swasta
Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global
Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau