Dulu Sampah Warga Ciampea Ditolak Masuk TPA, Kini Jadi Tabungan Emas

Dulu Sampah Warga Ciampea Ditolak Masuk TPA, Kini Jadi Tabungan Emas

Alfi Kholisdinuka - detikFinance
Minggu, 10 Mei 2026 09:48 WIB
Dulu Sampah Warga Ciampea Ditolak Masuk TPA, Kini Jadi Tabungan Emas
Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcom
Bogor - Persoalan sampah yang semula jadi masalah serius kini membawa berkah bagi para ibu rumah tangga di Desa Benteng, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. Melalui Bank Sampah Asri Mandiri, sampah yang dulu mencemari lingkungan kini disulap jadi tabungan emas.

Perjalanan ini dimulai pada akhir 2013. Saat itu, Desa Benteng menghadapi masalah lingkungan ketika Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga ditutup. Akibatnya truk-truk sampah tertahan di sepanjang jalan.

Kondisi itu memicu sekelompok warga melakukan musyawarah RW untuk mencari solusi mandiri. Hasilnya, para pengurus RT yang didominasi ibu rumah tangga memutuskan untuk mengelola sampah mereka sendiri agar tak bergantung sepenuhnya ke TPA.

"Dari situ kita berpikir bagaimana cara mengurangi sampah dari sumbernya. Maka dibentuklah bank sampah ini," kenang Ketua Pengelola Bank Sampah Asri Mandiri, Sri Asih kepada detikcom di Perumahan Asri Ciampea, Bogor, Rabu (28/4/2026).

Dari Fasilitas Seadanya

Asih menuturkan perjuangan awal bank sampah ini jauh dari kata ideal. Pada tahun pertama, ibu-ibu bekerja dengan fasilitas seadanya. Mereka bahkan harus meminjam timbangan milik posyandu dan petani untuk menimbang plastik dan kertas setoran warga.

Lalu masuk tahun ketiga, para nasabah mulai merasa jenuh. Sebab, kondisi operasional yang masih serba terbatas menurunkan minat warga untuk menyetorkan sampahnya.

Namun, di tengah kejenuhan itu, semangat para pengurus tak goyah. Asih dan sepuluh pengurus inti lainnya terus mendorong agar bank sampah tetap buka, meski hanya sampah milik pengurus saja yang ditimbang.

"Jadi kita bertekad. Mau ada yang nimbang apa enggak, pokoknya harus tetap buka," tegasnya.

Asih dan pengurus lainnya juga tak kehilangan cara. Mereka melakukan upaya jemput bola agar masyarakat bisa menyetorkan sampahnya dari rumah. Selain itu, mereka memberikan insentif bagi warga yang tercepat menyetorkan sampahnya ke bank sampah.

"Kita cari ide bagaimana agar nasabah tertarik lagi. Kadang kita cari donatur untuk buat doorprize. Misalnya, sepuluh penimbang pertama dapat hadiah apa, atau penimbang paling banyak hari itu dapat apa," ungkapnya.

Dulu Sampah Warga Ciampea Ditolak Masuk TPA, Kini Jadi Tabungan EmasFoto: Alfi Kholisdinuka/detikcom

Sampah Jadi Emas

Upaya ini perlahan membuahkan hasil. Warga mulai antusias kembali, hingga rela mengantre sebelum bank sampah dibuka. Bahkan nasabah bank sampah kini sudah mencapai lebih dari 200 dengan setoran sampah mencapai 1 ton setiap bulannya.

Tak heran, pada 2019, Bank Sampah Asri Mandiri unit kegiatan Desa Benteng ini resmi menjadi binaan PT Pegadaian yang merupakan entitas anak usaha dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI).

"Tahun 2019, Pegadaian meluncurkan program 'Memilah Sampah Menabung Emas'. Kita dapet selebarannya, lalu kita hubungi Pegadaian Bogor untuk ikut," tuturnya.

Asih menuturkan proses tersebut berjalan cepat. Hanya dalam waktu dua minggu setelah pengajuan dokumen dan SK kepengurusan, bantuan Corporate Social Responsibility (CSR) berupa bangunan fisik langsung diberikan.

Selang beberapa tahun pihaknya kemudian mengajukan kebutuhan gerobak motor untuk mengangkut sampah. "Ya. Kalau CSR memang nggak boleh dalam bentuk uang," katanya.

Asih menilai program ini memberikan manfaat untuk warga karena menawarkan bentuk tabungan emas. Pasalnya, setiap rupiah yang didapat warga dari menabung sampah ini bisa dikonversikan dalam bentuk kepemilikan emas.

Hal ini juga menguntungkan para pengurus karena tidak harus menyimpan dana milik nasabah dalam jumlah banyak. Karena sebelumnya para warga enggan untuk mengambil uang yang telah terkumpul di saldo tabungan sampahnya.

"Di sini itu, nasabahnya berbeda dengan tempat-tempat yang lain. Mungkin kalau yang lain itu, mereka uangnya diambil. Kalau di sini nggak. Tabungan nasabah itu (dibiarkan) numpuk di las bank sampah," jelasnya.

"Untungnya dengan adanya Pegadaian, ada fasilitas tabungan emas. Jadi, tabungan nasabah yang numpuk itu kita tawarkan ke nasabah, mau nggak dibelikan emas? alhamdulillah, kebanyakan mau, karena memang nggak diambil tabungan mereka itu," tambahnya.

Kendati begitu, Asih menyebut ada juga sebagian nasabah yang tetap mengambil hasil tabungan sampah. Salah satu momen itu bahkan menyentuh hatinya. Ini terjadi ketika seoarang asisten rumah tangga (ART) ingin mencairkan tabungannya sebesar Rp 600 ribu.

Awalnya, ia sempat khawatir tersinggung karena didokumentasikan. Namun, yang terjadi sebaliknya. ART tersebut terharu karena tak menyangka sampah yang ia kumpulkan setiap hari sanggup membiayai perbaikan rumahnya yang bocor.

"Saya pikir tersinggung divideoin, ternyata tuh enggak. Saking terharu, ART bisa benerin rumah dari sampah," tuturnya.

Asih menilai hal ini jadi bukti jika sampah dikelola dengan baik akan memberikan solusi ekonomi bagi masyarakat kecil. Oleh karenanya, dia ingin mengedukasi banyak masyarakat agar memanfaatkan sampah jadi sumber ekonomi.

Dulu Sampah Warga Ciampea Ditolak Masuk TPA, Kini Jadi Tabungan EmasFoto: Alfi Kholisdinuka/detikcom

Sarana Edukasi Desa BRILiaN

Oleh sebab itu, pada tahun 2022, Bank Sampah Asri Mandiri resmi menjadi bagian dari Desa BRILiaN. Hal ini karena bank sampah ini merupakan unit kegiatan ekosistem Desa Wisata Benteng yang mendapat Anugerah Desa BRILiaN.

Menurut Ketua Pengelola Desa Wisata Benteng Wahyu Syarief Hidayat, selama bergabung hingga kini, bank sampah ini banyak melakukan kegiatan edukasi ke berbagai kalangan. Mulai dari sekolah, kampus, hingga instansi. Bank sampah ini juga kerap jadi kunjungan wisata edukasi tentang pengelolaan sampah di Desa Benteng.

Hal ini karena peran dan kiprah Bank Sampah Asri mandiri memberikan dampak positif secara maksimal bagi masyarakat Benteng. Sehingga tak sedikit pihak luar yang ingin berkunjung untuk sekedar tahu dan ingin belajar membangun gerakan sejenis di wilayahnya.

Tak heran bank sampah ini mendapat penghargaan sebagai bank sampah terbaik se-Indonesia untuk kategori Tata Kelola Bank Sampah Unit pada 2023. Selain itu, bank sampah ini juga selalu mendapat juara di setiap lomba.

"Alhamdulillah mereka sering ikut lomba dan selalu juara. Lomba olahan daur ulang, menang juara dua. Tata kelola bank sampah juara satu. Kemudian video apresiasi dapat juga juara satu. PSN edukasi, dapat juara tiga," jelasnya.

Di sisi lain, Bank Sampah Asri Mandiri juga memiliki unit usaha bernama Hejona. Ini merupakan produk hasil daur ulang limbah plastik kemasan menjadi beragam produk multiguna, seperti tas, laptop, dompet, tempat pensil, hingga berbagai pilahan souvenir.

Menurut Wahyu, Hejona dan Bank Sampah Asri Mandiri ini sangat berperan dalam prestasi Desa Wisata Benteng yang menang program pemberdayaan Desa BRILiaN yang digelar BRI.

Hal ini membuat Desa Benteng berhak menerima dana hibah sebesar Rp 1 miliar. Dana ini dibagi pada seluruh unit kegiatan desa, termasuk juga Bank Sampah Asri Mandiri dan Hejona, dalam bentuk pengadaan sarana-prasarana penunjang kegiatan.

Dulu Sampah Warga Ciampea Ditolak Masuk TPA, Kini Jadi Tabungan EmasFoto: Alfi Kholisdinuka/detikcom

Komitmen Keberlanjutan BRI

Sementara itu, Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya mengatakan program Desa BRILiaN menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan BRI dalam mendukung agenda pembangunan nasional. Hal ini berfokus pada penguatan desa sebagai motor pemerataan ekonomi dan percepatan pengentasan kemiskinan.

Sejak diluncurkan pada 2020, Desa BRILiaN menjadi salah satu inisiatif strategis perseroan dalam membangun kapasitas desa. Program ini menitikberatkan pada pemberdayaan ekonomi berbasis potensi lokal, penguatan kelembagaan, hingga pemanfaatan teknologi digital yang terintegrasi.

"Melalui program Desa BRILiaN, BRI mendorong desa-desa untuk dapat mengoptimalkan potensi ekonomi secara berkesinambungan, memanfaatkan layanan keuangan perbankan khususnya BRI, serta meningkatkan pemahaman dalam penyusun laporan keuangan," ujar Akhmad.

Sebagai informasi, dalam perjalanannya, program Desa BRILiaN terus menjangkau semakin banyak desa di berbagai wilayah Indonesia. Sepanjang 2025, BRI telah membina lebih dari 5.200 Desa BRILiaN di seluruh Indonesia.

Hal ini jadi bukti konsistensi BRI dalam memperkuat peran desa sebagai basis pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus mitra strategis pemerintah. Terutama dalam mengimplementasikan agenda pembangunan yang berorientasi pada pemerataan dan kesejahteraan masyarakat. (akd/ega)

Berita Terkait