JAKARTA, KOMPAS.com - Siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 18 Jakarta Timur berhasil membuat buku cerita pendek (cerpen) bergambar hasil dari gerakan literasi.
Kepala Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 18 Jakarta Timur, Hairunisah menjelaskan para siswa diminta membuat cerpen sebagai upaya membangun kebiasaan menulis dan membaca sejak dini.
Hairunisah menambahkan bahwa karya-karya seperti puisi atau cerpen juga untuk mengurangi ketergantungan anak terhadap gawai.
"Meningkatkan literasinya, yang tadi seperti saya ceritakan itu. Anak itu jangan sampai gadget-nya itu cuma buat main game, dialihkan ke sini, nggak cuma bikin apa buku yang dicetak ini tapi ada yang flipbook-nya," ujar Hairunisah saat ditemui di lokasi, Jumat (28/11/2025).
Baca juga: Minat Baca Siswa Rendah, Kepala MIN 18 Jakarta Genjot Gerakan Literasi di Sekolah
Ia mengatakan bahwa karya tulisan seperti puisi dan cerpen merupakan tugas akhir siswa.
Guru MIN 18 membagikan buku untuk dibaca dari donasi Kompas.com, Jumat (28/11/2025).Dia juga berencana memperluas program ini untuk siswa kelas empat, yang selama ini hanya diterapkan untuk kelas enam.
"Nah sekarang yang saya coba kelas 4. Tapi kelas 4 bukan cerita bergambar tapi dia menceritakan daily activity mereka. Ceritakan ceritanya tentang kegiatan sehari-hari, pokoknya untuk mereka menarik, lalu mereka saya suruh salin ke Canva juga," ungkapnya.
Hairunisah menambahkan bahwa karya cerita bergambar tersebut belum dijual ke masyarakat dan saat ini hanya tersedia di perpustakaan sekolah.
"Belum (dijual) saat ini masih untuk dimasukkan ke perpustakaan, tetapi sudah beberapa kali mencoba mengajukan ke percetakan," jelasnya.
Sebelumnya, Hairunisah, menggenjot gerakan literasi di sekolahnya karena minimnya minat baca siswa.
"Akhirnya dari gerakan literasi menulis dan membaca inilah saya perlahan-lahan membangkitkan semangat menulis dan membaca di kalangan MIN 18 Jakarta Timur," ucap Hairunisah.
Baca juga: Gerakan Literasi MIN 18 Jaktim Dongkrak Nilai Rapor Siswa Nyaris 100
Ia menjelaskan, awalnya nilai literasi di sekolahnya cukup rendah. Karena itu, pada awal menjabat pada 2020, ia mulai menggencarkan program gemar membaca.
"Terutama nilai literasi ya, kita awal saya masuk itu kan literasi kisaran antara 5 atau 6 gitu nilainya ya, kecil lah minim banget. Ya saya sebagai pimpinan kan harus cari terobosan kan, mendobrak ini bagaimana supaya terangkat," ungkapnya.
Rendahnya nilai literasi saat itu juga disebabkan minimnya buku bacaan menarik di perpustakaan ketika ia pertama kali menjabat.
"Jujur, itu perpustakaan isinya cuma buku pelajaran aja, buku pengetahuan sangat minim," jelasnya.
Selain dukungan anggaran pemerintah, ia juga mengaku mendapatkan donasi buku dari Kompas.com melalui program Jagat Literasi.
"Saya bersyukur banget karena alhamdulillah itu bukunya itu kan ada kategori cerita ya, cerita anak, kemudian juga ada ensiklopedia dunia, itu jadi kata menambah wawasan anak lah," jelasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangDapatkan lebih banyak kuota, pahami berita lebih cepat, dan gali konteks mendalam dari artikel KOMPAS.com.