Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Teknologi AI-IoT Bantu Mitigasi Banjir Rob di Pantura Jateng, Peran Perempuan Jadi Kunci

Kompas.com, 29 April 2026, 08:30 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Sistem pemantauan banjir rob berbasis kecerdasan buatan (AI) dan internet of things (IoT) dikembangkan untuk membantu mitigasi banjir pasang surut di kawasan pantai utara Jawa Tengah.

Teknologi tersebut menjadi bagian dari sistem peringatan dini yang dapat diakses masyarakat melalui aplikasi ponsel bernama Tide-Eye.

Aplikasi Tide-Eye memanfaatkan radar dan drone berkamera sebagai perangkat utama untuk memantau perubahan permukaan air laut di kawasan permukiman pesisir. Data ketinggian air yang dikumpulkan kemudian diolah menggunakan sistem AI menjadi informasi peringatan dini.

Baca juga: Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik

Salah satu peneliti yang terlibat dalam pengembangan sistem itu, Miftadi Sudjai dari Universitas Telkom, mengatakan teknologi tersebut dirancang untuk membantu masyarakat lebih siap menghadapi banjir rob sekaligus menekan potensi kerugian.

“Kami mendesain sistem berbasis jaringan sensor IoT dan AI agar menghasilkan data yang akurat. Harapannya, ini bisa mereduksi kerugian akibat banjir rob dan menjadi sarana edukasi agar masyarakat lebih tangguh serta siap menghadapi dampaknya,” ujar Miftadi dalam "Knowledge and Innovation Exchange – Jakarta Summit Indicative Agenda" di Jakarta, Selasa (28/4/2026).

Dipakai di Wilayah Rawan Rob

Pengembangan sistem dilakukan di sejumlah wilayah pesisir yang kerap terdampak rob, seperti Tambak Lorok di Semarang, kawasan muara Sungai Kalibabon, Pekalongan, dan Demak.

Tim peneliti terlebih dahulu melakukan survei lapangan untuk memetakan persoalan yang dihadapi warga, termasuk kebutuhan informasi saat banjir rob datang.

Menurut Miftadi, pendekatan berbasis data dinilai penting karena banjir rob di pesisir utara Jawa Tengah terus berulang dan memengaruhi aktivitas ekonomi maupun kehidupan sehari-hari masyarakat.

Ia menjelaskan, masyarakat terdampak dilibatkan sejak awal dalam proses pengembangan aplikasi, terutama kelompok perempuan.

Baca juga: Banjir Rob Tak Cukup dengan Bangun Giant Sea Wall, BRIN Ungkap Risikonya

“Mungkin alasannya karena ibu-ibu pada siang hari lebih banyak berada di rumah, sehingga kami bisa berkonsultasi langsung. Kami berdiskusi mengenai berbagai persoalan yang mereka hadapi saat banjir rob,” katanya.

Miftadi memperkirakan sekitar 44 persen perempuan terlibat dalam desain pengembangan aplikasi tersebut. Dari sisi mitra pemerintah, sekitar 34 persen keterlibatan juga berasal dari perempuan, termasuk penanggung jawab program dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).

Menurut dia, kelompok ibu rumah tangga selama ini menjadi pihak yang paling aktif dalam proses evakuasi dan mitigasi ketika rob terjadi.

“Ketika kami mengadakan pelatihan di tingkat RT, sekitar 80 persen peserta yang hadir adalah ibu-ibu,” ujarnya.

Pengembang berharap Tide-Eye dapat menjadi model sistem peringatan dini berbasis teknologi yang mudah diakses masyarakat pesisir.

Selain memberi informasi ketinggian air secara real time, aplikasi tersebut diharapkan mendorong kesiapsiagaan warga menghadapi ancaman rob yang semakin sering terjadi akibat penurunan muka tanah dan kenaikan permukaan laut.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Desa Energi Berdikari Keliki, Wujudkan Ketahanan Pangan Berbasis Energi Bersih
Desa Energi Berdikari Keliki, Wujudkan Ketahanan Pangan Berbasis Energi Bersih
BUMN
Padukan Kearifan Lokal dan Sains, Muhammadiyah Resmikan Sekolah Berbasis Konservasi di Papua Barat
Padukan Kearifan Lokal dan Sains, Muhammadiyah Resmikan Sekolah Berbasis Konservasi di Papua Barat
LSM/Figur
Grup Astra Lirik PLTS Atap untuk Tekan Emisi dan Konsumsi Energi
Grup Astra Lirik PLTS Atap untuk Tekan Emisi dan Konsumsi Energi
Swasta
Karhutla di Sumsel capai 182,54 hektare pada Januari-April 2026
Karhutla di Sumsel capai 182,54 hektare pada Januari-April 2026
Pemerintah
Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
Pemerintah
BRIN Temukan 1.583 Spesies Baru Selama Hampir Enam Dekade Terakhir
BRIN Temukan 1.583 Spesies Baru Selama Hampir Enam Dekade Terakhir
Pemerintah
Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Pemerintah
Meriahkan Waisak 2026, DKI Jakarta Wujudkan Kota Inklusif lewat 'Illumination of Jakarta, Glow of Peace'
Meriahkan Waisak 2026, DKI Jakarta Wujudkan Kota Inklusif lewat "Illumination of Jakarta, Glow of Peace"
Pemerintah
Amazon, Google, Meta, dan Microsoft Kompak Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
Amazon, Google, Meta, dan Microsoft Kompak Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
Pemerintah
Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Pemerintah
Pagi Ini, Jakarta Masuk 10 Kota Paling Berpolusi di Dunia
Pagi Ini, Jakarta Masuk 10 Kota Paling Berpolusi di Dunia
Swasta
Perkuat Biodiversitas, Nuanu Creative City Tanam 1.000 Pohon Lokal
Perkuat Biodiversitas, Nuanu Creative City Tanam 1.000 Pohon Lokal
LSM/Figur
Bukit Asam Catat Lonjakan Emisi Operasional Batu Bara dalam 5 Tahun Terakhir
Bukit Asam Catat Lonjakan Emisi Operasional Batu Bara dalam 5 Tahun Terakhir
BUMN
Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja 'Toxic'
Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja "Toxic"
Swasta
Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global
Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau