Kalau membahas grup musik cadas Slank yang saat ini personilnya: Bimo Setiawan Almachzumi (Bimbim), Akhadi Wira Satriaji (Kaka), Ivan Kurniawan Arifin, Abdee Negara Nurdin dan Mohammad Ridwan Hafiedz, maka yang terpikirkan adalah genre musik Rock yang ada nuansa Blues ataupun Reggae.
Tetapi di Java Jazz Festival, terjadilah fenomena "agak laen" itu, dalam beberapa lagu mereka harus mengikuti gaya musik jazz yang mengutamakan kekayaan melodi, swing, improvisasi kunci dan hentakan-hentakan ketukan yang terkadang bikin bingung para penggemar musik pop.
Di hari ketiga Java Jazz Festival, 31 Mei 2026 yang diadakan di Nusantara International Convention And Exhibition (NICE) Pantai Indah kapuk 2, Slank masih menyanyikan lagunya dengan gaya biasa Rock And Roll, tetapi mulai di lagu "Terlalu Manis", di mana di awal intro lagu, Kaka memainkan harmonikanya secara lebih "jazzy", maka mulai masuklah suasana jazz dalam pertunjukan ini yang membuat festival ini tetap bisa menjaga "marwahnya" sebagai barometer musik jazz di Indonesia.
Ada beberapa kejutan kecil di "show" Slank malam tadi dimana komandan mereka Bimbim yang membentuk band ini sejak tahun 1983 ketika dia SMA, bangkit dari kursi drumnya dan menyanyikan lagu "Esok kan Masih Ada" dengan sangat-sangat romantis, jadi kepingin nangis.
Kejutan lainnya adalah kolaborasi atau duet Kaka dengan Margie Segers, penyanyi jazz senior yang sudah 57 tahun terjun di dunia musik, membuat penampilan mereka yang dimulai pukul 15.30, pertama di festival hari ketiga itu menjadi istimewa, sehingga penonton yang berkisar seribuan orang mendapatkan kata dalam hati "wow, begitu!" yang diharapkan berbeda dari pentas mereka yang sebelum-sebelumnya.
Mungkin, sedikit kekurangan penampilan Slank di Java Jazz Festival ini ya salah satunya kostum, karena Kaka memang malah tidak memakai baju, padahal penyanyi jazz biasanya pakai jas lengkap dengan dasi dan ikat pinggang serta satu lagi penonton dikasih kursi tetapi penggemar Slank yang nekat tetap maju ke depan ambil foto dan video padahal penonton yang duduk terhalang pandangannya dan tidak ada pula "crowd control" yang mengendalikan suasana.
Untungnya penonton yang duduk semua bermental bangsawan tidak marahin yang maju-maju ke depan sambil berdiri mengganggu pemandangan, kalau tidak bukankah bisa rusuh?
Tetapi di luar itu semua, "I Love You and Don't Hate You, Slank" bagaimanapun, masa SMA dan Kuliahku ditahun 1990-2000-an dahulu tetap terwarnai dengan lagu-lagu khas romantis dan "nyelenehmu".

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana. Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI
