Tak hanya manusia yang menderita dihantam gelombang panas. Satwa liar seperti koala pun ikut merasakannya. Suhu ekstrem mengancam nyawa manusia dan satwa.
AP/John Towey/Palm Beach Zoo Conservatio
Oleh Tatang Mulyana Sinaga
29 Mei 2026 16:00 WIB · Internasional
Gelombang panas menerjang berbagai belahan dunia. Rekor suhu tertinggi melanda beberapa negara Eropa. Sejumlah orang tewas tenggelam saat mencoba mendinginkan diri dari terik yang tertahankan. Sementara di Australia, satwa liar seperti koala pun bernasib naas karena sengatan panas.
Masyarakat Inggris merasakan panas yang lebih menyengat. Suhu yang tercatat di Kebun Raya Kew London mencapai 35,1 derajat celsius, Selasa (26/5/2026). Itu merupakan rekor suhu tertinggi di negara tersebut pada bulan Mei dalam satu abad terakhir.
Rekor lama tercatat pada 1992 dengan suhu 32,8 derajat celsius. Suhu serupa pernah terjadi pada 1944. Rekor ini kemudian pecah, Senin (25/5/2026), dengan suhu 34,8 derajat celsius, sebelum akhirnya kembali terlampaui sehari kemudian.
:quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2026/05/27/abefb021a5a66d92f9af3278124217ed-Britain_Extreme_Weather_Heat.jpg)
Kondisi di Perancis tak jauh berbeda. Suhu di negara itu, Senin, mencapai 36 derajat celsius sekaligus menjadi rekor tertinggi pada bulan Mei. Sementara pada malam hari, suhunya di atas 20 derajat celsius.
Gelombang panas meluas ke negara Eropa Barat lainnya. Suhu di Sevilla, Spanyol, menembus 38 derajat celsius selama akhir pekan lalu. Sementara suhu di sebagian besar Semenanjung Iberia naik 5-10 derajat celsius lebih tinggi dari biasanya. Suhu di Roma, ibu kota Italia, Selasa, tercatat sekitar 32 derajat celsius.
Fenomena tersebut menandai gelombang panas yang datang lebih awal di Eropa. Biasanya, musim panas tahunan di benua itu baru dimulai pada Juni. Perubahan iklim telah mengacaukan siklus dan periode musim di seluruh dunia.
Cuaca ekstrem dan tidak dapat diprediksi semakin sering terjadi seiring dengan pemanasan Bumi. Gelombang panas yang berkepanjangan berpotensi membahayakan banyak orang, bahkan hingga menyebabkan kematian.
:quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2026/05/27/cb6e79cf8ab837c846dbac2d2a6a198f-Britain_Extreme_Weather_Heat_1_.jpg)
Direktur Pusat Penelitian Iklim ICARUS di Universitas Maynooth, Irlandia, Peter Thorne, mengatakan, gelombang panas menjadi lebih parah karena perubahan iklim. Hal ini disebabkan oleh emisi gas rumah kaca yang memerangkap panas.
”Banyak rekor suhu panas yang tercipta, terutama di Inggris dan Perancis. Ini sangat luar biasa gila,” ujarnya.
Badan Keamanan Kesehatan Inggris sampai harus mengeluarkan peringatan kesehatan darurat untuk sebagian besar wilayahnya. Cuaca panas berpotensi meningkatkan risiko kesehatan kelompok rentan, terutama lansia.
Di Skotlandia, petugas pemadam kebakaran bekerja sepanjang malam untuk memadamkan kebakaran rumput di perbukitan yang menjulang di atas Edinburgh. Kebakaran menyebabkan kepulan asap tebal yang mengganggu pernapasan.
Fenomena tersebut menandai gelombang panas yang datang lebih awal di Eropa. Sebab, biasanya, musim panas tahunan di benua itu baru dimulai pada Juni. Perubahan iklim telah mengacaukan siklus dan periode musim di seluruh dunia.
Untuk mengatasi gelombang panas, banyak warga Eropa mendinginkan diri dengan berbondong-bondong berenang di sungai dan danau. Otoritas Inggris melaporkan, setidaknya empat remaja tewas karena diduga tenggelam di danau dan waduk saat gelombang panas menerjang.
Juru Bicara Pemerintah Perancis, Maud Bregeon, mengatakan telah menerima laporan tujuh kematian terkait dengan suhu panas. Ketujuh kasus itu terdiri dari lima kasus tenggelam dan dua kematian dalam kompetisi olahraga.
Media Perancis, Le Monde, melaporkan, gelombang panas yang telah mencatat suhu tertinggi di seluruh negara itu diperkirakan akan meningkat. Insiden tenggelam terjadi di berbagai daerah di Perancis, mulai dari Lyon tenggara hingga pantai Atlantik.
:quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2026/05/27/098f63f24645a7f11e28d1b40cd0f46a-wires_photo_30_.jpg)
”Suhu tinggi mendorong banyak orang ke pantai-pantai di negara itu untuk mendinginkan diri di dalam air, meskipun pengawasan penjaga pantai baru akan dimulai di banyak daerah pada Juli,” tulis laporan tersebut.
Pesisir Atlantik di Perancis memiliki pantai-pantai yang indah sehingga menjadi daya tarik warga. Namun, kawasan itu juga mempunyai arus balik yang kuat. Oleh sebab itu, administrator regional, Sophie Brocas, mengimbau para pengunjung untuk berhati-hati sepenuhnya.
Gelombang panas tak hanya membawa penderitaan bagi manusia, tetapi juga satwa liar. Studi di New South Wales, Australia, menyebutkan, gelombang panas berkepanjangan meningkatkan risiko kematian koala, mamalia berkantong yang menyerupai beruang.
:quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2026/05/27/41f84077b119af648319675cd756bd8f-India_Heat_Wave.jpg)
”Koala dapat bertahan dalam kondisi sulit di hutan belantara Australia. Namun, paparan berkepanjangan cuaca panas, bahkan yang sedang sekalipun, dapat meningkatkan risiko kematian akibat panas,” tulis penelitian yang diterbitkan di jurnal Biology Letters itu.
Para peneliti menyebutkan, risiko koala dewasa dirawat atau mati meningkat ketika suhu maksimum rata-rata mencapai 27 derajat celsius selama tujuh hari. Koala sebenarnya dapat bertahan hidup pada suhu atas 40 derajat celsius untuk waktu yang terbatas. Namun, paparan panas berhari-hari meningkatkan risiko kematian satwa endemik Australia itu.
”Pada suhu 30 derajat celsius atau lebih tinggi (selama tujuh hari), risiko tersebut (dirawat atau mati) meningkat 1,5-3,5 kali,” ujar Valentina Mella, penulis utama studi tersebut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2026/05/19/ac7e042338978a287568a102fcb44c8d-20260516_111402.jpg)
Para peneliti menganalisis hampir 12.000 laporan kematian koala di sebuah rumah sakit koala New South Wales pada 2000-2022. Kenaikan suhu dan gelombang panas akibat perubahan iklim merupakan ancaman utama bagi kesehatan dan kelangsungan hidup satwa liar, termasuk koala.
Menurut Mella, melindungi pohon-pohon besar yang menghasilkan naungan dan menyediakan akses air selama gelombang panas dapat membantu mengurangi risiko dehidrasi pada koala. Koala mengatur suhu tubuhnya dengan memeluk pohon untuk mengurangi panas atau mencari dedaunan yang lebih lebat untuk menghindari sinar matahari langsung.
”Tanpa intervensi proaktif, peningkatan terus-menerus kejadian panas ekstrem dapat mendorong populasi koala yang sudah rentan semakin mendekati kepunahan,” katanya. (AP/REUTERS/AFP)
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase