KINSHASA, SENIN — Sekelompok orang menyerang dan membakar pusat pesawatan pasien Ebola di dekat perbatasan Kongo-Uganda. Serangan terjadi kala jumlah kasus ebola di Kongo sudah mendekati 1.000.
Sekelompok orang menyerang Rumah Sakit Monbgwalu pada Minggu (24/5/2026) malam waktu setempat. Direktur layanan rumah sakit, Richard Lokudu, menyebut bahwa penyerang menuntut jenazah dua kerabat mereka diserahkan.
Sesuai protokol, semua jenazah orang yang meninggal terkait ebola tidak boleh dimakamkan sembarangan. Pemakaman harus dilakukan tim khusus untuk mencegah penyebaran virus yang sangat mematikan itu.
Namun, sejumlah orang di kota yang berjarak hampir 2.000 kilometer dari ibu kota Kongo, Kinshaha, itu tak mau menerima ketentuan tersebut. Mereka menyerbu RS tempat Lokudu bekerja. ”RS Monbgwalu dalam kondisi waspada,” ujarnya.
Ia menyebut ada tembakan terdengar. Manajemen RS berusaha memindahkan pasien dan pegawai agar tak jadi sasaran amukan massa.
RS Monbgwalu merupakan lokasi perawatan ebola ketiga yang diserang dalam sepekan terakhir. Rangkaian serangan terjadi kala obat dan peralatan untuk menangani pasien ebola amat kurang di Kongo.
Serangan Minggu malam terjadi tak sampai sehari selepas lokasi isolasi sementara ebola di kota diserang sekelompok warga. Lokasi itu dikelola Dokter Lintas Batas (MSF).
Kala serangan dilancarkan, 18 orang sedang diisolasi. Serangan membuat 18 orang lari entah ke mana. Padahal, mereka menunjukkan gejala ebola.
Sementara di Rwampara, kota lain di Kongo timur, ada pusat perawatan pasien ebola dibakar massa pada Kamis. Mereka marah karena dilarang mengambil jenazah kerabat mereka yang meninggal karena ebola.
Risiko tinggi
Massa tak peduli dengan imbauan berbagai otoritas kesehatan sebagai bahaya amat serius. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular (CDC) Afrika menyatakan 10 negara dalam status risiko amat tinggi ebola.
Selain Kongo, status itu juga diberlakukan ke Rwanda, Kenya, Tanzania, Angola, Burundi, Republik Afrika Tengah, Republik Kongo, Etiopia, Sudan Selatan, dan Zambia. Semuanya negara yang berdekatan dengan Kongo.
Virus ebola adalah penyakit sangat menular yang menyebabkan demam berdarah parah, kegagalan organ, dan kematian. Disebabkan oleh famili Filoviridae, virus ini memiliki tingkat fatalitas rata-rata 50 persen hingga 90 persen. Wabah saat ini terkonsentrasi di wilayah Afrika Tengah dan Timur.
Wabah kali ini dipicu virus dari galur Bundibugyo. Galur itu amat jarang dan sampai sekarang belum ada vaksin untuk mengatasinya.
Kementerian Kesehatan Kongo mengumumkan, 904 kasus ebola terkonfirmasi di negara itu. Dengan kasus di negara sekitar Kongo, jumlah ebola saat ini mendekati 1.000 kasus. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan wabah ebola di Republik Demokratik Kongo dan Uganda sebagai kondisi darurat kesehatan yang menjadi perhatian internasional.
Hingga kini, menurut Kemenkes Kongo, 119 orang tewas akibat ebola di Kongo. Walakin, sejumlah sumber lain menyebut korban tewas kali ini sudah 220 orang.
Penanganan ebola di kawasan itu tidak mudah. Di Kongo timur, kelompok separatis mengendalikan wilayah. Provinsi Ituri, lokasi awal wabah kali ini terdata, terbelah antara yang dikuasai pemerintah dan kelompok separatis M23. Kelompok separatis itu disebut disokong Rwanda, tetangga Kongo yang lebih kecil wilayahnya.
Milisi separatis dan aneka kelompok bersenjata kerap menyerang pusat-pusat perawatan kesehatan. Sukarelawan di sana cedera sampai diculik. Lebih dari sejuta orang terpaksa mengungsi akibat perang saudara di Ituri saja. Di Provinsi Kivu Selatan dan Kivu Utara, keduanya dikuasai M23, pengendalian dan perawatan ebola juga sulit dilakukan.
Direktur Kesehatan Masyarakat pada Dokter untuk HAM (PHR) Thomas McHale mengatakan, semua itu masih ditambah dengan pemangkasan bantuan kesehatan ke Afrika. PHR, MSF, dan berbagai kelompok lain menghadapi ebola dengan peralatan amat minim.
Komite Palang Merah Internasional (ICRC) mengatakan, keterbatasan alat pelindung diri (APD) diduga jadi penyebab sebagian sukarelawan palang merah tertular ebola di Kongo. Sebagian sukarelawan itu tewas.
Pengurus Aurora Humanitarian Initiative, Colin Thomas-Jensen, menyebut bahwa penanganan justru paling sulit dilakukan di lokasi yang kasusnya tinggi. Selain keterbatasan peralatan dan obat, ada sikap masyarakat yang menentang protokol kesehatan.
Pemerintah Kongo telah melarang kumpul-kumpul lebih dari 50 orang. Orang yang meninggal karena ebola juga dilarang dimakamkan selain oleh tenaga khusus.
Massa tak mengindahkan semua itu. Mereka tetap berkumpul di gereja tanpa menjaga jarak, tanpa memakai masker. Mereka juga berdiri berdempetan di pemakaman orang yang meninggal karena ebola.
Sejumlah pengurus gereja malah menyebut tidak perlu khawatir dengan ebola. Cukup banyak-banyak beribadah saja. (AP/AFP)
KINSHASA, SENIN — Sekelompok orang menyerang dan membakar pusat pesawatan pasien Ebola di dekat perbatasan Kongo-Uganda. Serangan terjadi kala jumlah kasus ebola di Kongo sudah mendekati 1.000.
Sekelompok orang menyerang Rumah Sakit Monbgwalu pada Minggu (24/5/2026) malam waktu setempat. Direktur layanan rumah sakit, Richard Lokudu, menyebut bahwa penyerang menuntut jenazah dua kerabat mereka diserahkan.
Serial Artikel
Cegah Ebola, Kongo Larang Pemakaman dan Kumpul-kumpul Warga
WHO menetapkan risiko ebola di Kongo ”sangat tinggi”. Kongo merespons dengan melarang pemakaman dan lebih dari 50 orang berkumpul. Vaksin dan obat sedang dikejar.
Sesuai protokol, semua jenazah orang yang meninggal terkait ebola tidak boleh dimakamkan sembarangan. Pemakaman harus dilakukan tim khusus untuk mencegah penyebaran virus yang sangat mematikan itu.
Namun, sejumlah orang di kota yang berjarak hampir 2.000 kilometer dari ibu kota Kongo, Kinshaha, itu tak mau menerima ketentuan tersebut. Mereka menyerbu RS tempat Lokudu bekerja. ”RS Monbgwalu dalam kondisi waspada,” ujarnya.
Ia menyebut ada tembakan terdengar. Manajemen RS berusaha memindahkan pasien dan pegawai agar tak jadi sasaran amukan massa.
RS Monbgwalu merupakan lokasi perawatan ebola ketiga yang diserang dalam sepekan terakhir. Rangkaian serangan terjadi kala obat dan peralatan untuk menangani pasien ebola amat kurang di Kongo.
Serangan Minggu malam terjadi tak sampai sehari selepas lokasi isolasi sementara ebola di kota diserang sekelompok warga. Lokasi itu dikelola Dokter Lintas Batas (MSF).
Kala serangan dilancarkan, 18 orang sedang diisolasi. Serangan membuat 18 orang lari entah ke mana. Padahal, mereka menunjukkan gejala ebola.
Sementara di Rwampara, kota lain di Kongo timur, ada pusat perawatan pasien ebola dibakar massa pada Kamis. Mereka marah karena dilarang mengambil jenazah kerabat mereka yang meninggal karena ebola.
Serial Artikel
Berpacu dengan Ebola Langka, Memburu Obat dan Vaksin di Tengah Wabah
Para ilmuwan berpacu melawan waktu dengan virus ebola langka yang menyebar di Afrika, sementara dunia belum memiliki vaksin ataupun obatnya.
Massa tak peduli dengan imbauan berbagai otoritas kesehatan sebagai bahaya amat serius. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular (CDC) Afrika menyatakan 10 negara dalam status risiko amat tinggi ebola.
Selain Kongo, status itu juga diberlakukan ke Rwanda, Kenya, Tanzania, Angola, Burundi, Republik Afrika Tengah, Republik Kongo, Etiopia, Sudan Selatan, dan Zambia. Semuanya negara yang berdekatan dengan Kongo.
Virus ebola adalah penyakit sangat menular yang menyebabkan demam berdarah parah, kegagalan organ, dan kematian. Disebabkan oleh famili Filoviridae, virus ini memiliki tingkat fatalitas rata-rata 50 persen hingga 90 persen. Wabah saat ini terkonsentrasi di wilayah Afrika Tengah dan Timur.
Wabah kali ini dipicu virus dari galur Bundibugyo. Galur itu amat jarang dan sampai sekarang belum ada vaksin untuk mengatasinya.
Kementerian Kesehatan Kongo mengumumkan, 904 kasus ebola terkonfirmasi di negara itu. Dengan kasus di negara sekitar Kongo, jumlah ebola saat ini mendekati 1.000 kasus. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan wabah ebola di Republik Demokratik Kongo dan Uganda sebagai kondisi darurat kesehatan yang menjadi perhatian internasional.
Hingga kini, menurut Kemenkes Kongo, 119 orang tewas akibat ebola di Kongo. Walakin, sejumlah sumber lain menyebut korban tewas kali ini sudah 220 orang.
Penanganan ebola di kawasan itu tidak mudah. Di Kongo timur, kelompok separatis mengendalikan wilayah. Provinsi Ituri, lokasi awal wabah kali ini terdata, terbelah antara yang dikuasai pemerintah dan kelompok separatis M23. Kelompok separatis itu disebut disokong Rwanda, tetangga Kongo yang lebih kecil wilayahnya.
Milisi separatis dan aneka kelompok bersenjata kerap menyerang pusat-pusat perawatan kesehatan. Sukarelawan di sana cedera sampai diculik. Lebih dari sejuta orang terpaksa mengungsi akibat perang saudara di Ituri saja. Di Provinsi Kivu Selatan dan Kivu Utara, keduanya dikuasai M23, pengendalian dan perawatan ebola juga sulit dilakukan.
Serial Artikel
Penyakit Misterius di Kongo
Sebaiknya kita hindari konsumsi satwa liar, seperti kelelawar. Satwa itu berjasa dalam pelestarian lingkungan, menyebarkan biji-bijian pohon untuk pelestarian hutan.
Direktur Kesehatan Masyarakat pada Dokter untuk HAM (PHR) Thomas McHale mengatakan, semua itu masih ditambah dengan pemangkasan bantuan kesehatan ke Afrika. PHR, MSF, dan berbagai kelompok lain menghadapi ebola dengan peralatan amat minim.
Komite Palang Merah Internasional (ICRC) mengatakan, keterbatasan alat pelindung diri (APD) diduga jadi penyebab sebagian sukarelawan palang merah tertular ebola di Kongo. Sebagian sukarelawan itu tewas.
Pengurus Aurora Humanitarian Initiative, Colin Thomas-Jensen, menyebut bahwa penanganan justru paling sulit dilakukan di lokasi yang kasusnya tinggi. Selain keterbatasan peralatan dan obat, ada sikap masyarakat yang menentang protokol kesehatan.
Pemerintah Kongo telah melarang kumpul-kumpul lebih dari 50 orang. Orang yang meninggal karena ebola juga dilarang dimakamkan selain oleh tenaga khusus.
Massa tak mengindahkan semua itu. Mereka tetap berkumpul di gereja tanpa menjaga jarak, tanpa memakai masker. Mereka juga berdiri berdempetan di pemakaman orang yang meninggal karena ebola.
Sejumlah pengurus gereja malah menyebut tidak perlu khawatir dengan ebola. Cukup banyak-banyak beribadah saja. (AP/AFP)