Wanita bernama Mardiah (20) yang baru saja alami keguguran terpaksa ditandu sejauh 10 kilometer (Km) menuju Puskesmas di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar), gegara jalan rusak tidak dapat dilalui kendaraan. Pasien ditandu melewati malam yang gelap gulita demi mendapat pertolongan medis.
"Lumayan jauh ditandu, perkiraan di atas 10 kilo," ujar salah satu warga, Ani kepada wartawan melalui sambungan telepon, Senin (1/6/2026).
Proses evakuasi pasien berlangsung dari rumah mertuanya di Desa Indobanua menuju lokasi mobil ambulans menjemput di Kelurahan Talipukki, Kecamatan Mambi, Sabtu malam (30/5). Perjuangan warga menandu pasien berlangsung selama lebih kurang 2 jam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ditandu sebelum jam sepuluh (21.30 Wita) sampai di atas jam sebelas (23.30 Wita). Setengah jalan ditandu, setelah itu dijemput mobil di Talipukki lalu dibawa ke Puskesmas," ujar Ani.
Ani mengatakan pasien dievakuasi warga ke Puskesmas lantaran tiba-tiba mengalami sakit tak tertahankan akibat kontraksi. Malang, pasien mengalami keguguran sesaat setelah berada di atas tandu hingga janin usia lima bulan dalam kandungannya tak terselamatkan.
"Setelah Isya baru dia rasa itu perutnya kontraksi, pada saat itu di rumah mertuanya. Setelah itu langsung dibuatkan tandu, tetapi pas naik di atas tandu keguguran, baru umur lima bulan (kandungan)," terangnya.
Menurutnya, setelah mendapat penanganan awal di Puskesmas Mambi, pasien dirujuk ke RSUD Hajja Andi Depu Polewali untuk perawatan lebih lanjut. Diakui Ani, akses jalan menuju Desa Indobanua memang sudah lama rusak parah dan hanya dapat dilalui mobil khusus jenis Hardtop.
"Akses jalan memang tidak bisa dilalui kendaraan selain Hardtop. Tapi sekarang sudah tidak bisa, apalagi ada jembatan (rusak) di dusun juga tidak bisa dilewati," terangnya.
Ani menegaskan, potret perjuangan warga menandu pasien demi mendapat penanganan medis bukan baru pertama terjadi di daerahnya. Setiap kali ada warga sakit dan membutuhkan penanganan medis darurat terpaksa ditandu mengandalkan tenaga manusia untuk memikul.
"Dari dulu kondisinya begini (jalan rusak) setiap warga sakit mesti ditandu. Kami berharap pemerintah memberi perhatian agar jalanan menuju desa kami segera diperbaiki," tutupnya.
Dalam potongan video pendek yang dilihat wartawan, tampak sejumlah warga memikul tandu yang terbuat dari kain sarung dan diberi bambu. Bermodalkan cahaya senter, mereka berjuang melewati jalan rusak di tengah kegelapan malam.
(ata/sar)











































