Penurunan tanah di kawasan lumpur Lapindo, Sidoarjo, terus terjadi selama dua dekade terakhir. Penurunan terbesar bahkan sempat tercatat terjadi di sisi utara tanggul Lapindo pada periode 2021-2022.
Kepala Bidang Perencanaan Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS), Zulyana Tandju, menjelaskan berbagai upaya yang telah dilakukan untuk merespons dampak penurunan tanah tersebut.
"Untuk tanggul yang mengalami penurunan tanah, PPLS melakukan upaya perkuatan daya dukung tanah melalui kegiatan fisik berupa pemasangan Deep Cement Mixing (DCM) yang telah dilakukan pada tanggul sisi utara sepanjang 1,5 kilometer pada tahun 2023-2024," kata Zulyana kepada detikJatim, Senin (1/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Zulyana mengungkapkan, penurunan tanah di kawasan lumpur Lapindo merupakan kondisi yang sulit dikendalikan. Hal itu disebabkan oleh kondisi geologi yang kompleks di wilayah tersebut.
"Penurunan tanah yang terjadi di kawasan lumpur Sidoarjo sangat sulit dikendalikan dikarenakan kondisi geologi yang kompleks pada kawasan lumpur Sidoarjo," katanya.
Menurut Zulyana, penurunan tanah di kawasan lumpur Lapindo dipengaruhi oleh sejumlah faktor geologi. Salah satunya adalah keberadaan sesar aktif yang melintasi wilayah Sidoarjo.
"Penurunan tanggul dipengaruhi oleh kondisi geologi yang kompleks pada kawasan lumpur Sidoarjo, di antaranya adanya pengaruh sesar aktif. Selain itu, wilayah Sidoarjo diketahui merupakan daerah endapan sedimen," jelasnya.
"Selain itu juga, pondasi tanggul lumpur Sidoarjo memiliki daya dukung tanah yang rendah," tambahnya.
Zulyana menegaskan bahwa fenomena penurunan tanah memang masih terjadi di kawasan lumpur Lapindo. Berdasarkan hasil pemantauan, tingkat penurunan tanah yang terjadi di sepanjang tanggul bervariasi.
"Berdasarkan data primer dan sekunder terhadap tanggul lumpur Sidoarjo, sepanjang 11 kilometer terjadi penurunan yang variatif," katanya.
Ia menyebut penurunan terbesar tercatat terjadi di tanggul sisi utara.
"Di mana penurunan terbesar terjadi di tanggul sisi utara dengan penurunan sebesar 0,4 meter yang tercatat pada tahun 2021-2022," tandasnya.
(ihc/hil)
