Genap 20 tahun semburan lumpur Lapindo sejak 29 Mei 2006. Bencana yang menenggelamkan 16 desa di tiga kecamatan yakni Porong, Jabon, dan Tanggulangin itu masih menyisakan jejak panjang bagi para korban yang kehilangan rumah, lahan, dan mata pencaharian.
Kini, sebagian besar desa yang masuk dalam peta area terdampak sudah tidak lagi terlihat. Kawasan tersebut berubah menjadi hamparan luas penampungan air dan lumpur yang dikelilingi tanggul penahan untuk mencegah luapan lumpur keluar dari area terdampak.
Selama bertahun-tahun, air dan lumpur dari kolam penampungan dialirkan menuju Sungai Porong melalui sistem pompa, pipa, spillway, dan kapal keruk yang dikelola Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS). Namun belakangan aktivitas tersebut tidak lagi terlihat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pantauan detikJatim di dua titik pembuangan menuju Sungai Porong, yakni di Desa Pajarakan dan Desa Besuki, Kecamatan Jabon, menunjukkan tidak adanya aliran air maupun lumpur yang keluar dari cerobong pipa pembuangan. Lokasi yang berada di sisi barat eks Tol Porong-Gempol itu tampak sepi dari aktivitas.
Puji (58), warga Kelurahan Siring, Kecamatan Porong, mengaku sudah beberapa minggu terakhir tidak melihat adanya aktivitas pembuangan air dan lumpur ke Sungai Porong.
"Sampai hari ini saya tidak melihat ada kegiatan pembuangan air dan lumpur ke Sungai Porong. Biasanya kalau ada pembuangan terlihat aktivitas petugas dan pergerakan di sekitar lokasi," kata Puji kepada detikJatim, Minggu (31/5/2026).
Sistem pipa yangdigunakan untuk mengalirkan air dan lumpur dari kolam penampungan (Foto: Suparno/ detikjatim) |
Menurut Puji, dirinya juga sempat memperhatikan kondisi permukaan air di area tanggul penahan lumpur, khususnya di sekitar titik 71 yang berada di sisi timur tol buntung. Saat permukaan air meningkat, biasanya petugas PPLS lebih sering terlihat melakukan pemantauan.
"Beberapa minggu ini juga tidak terlihat petugas PPLS yang mondar-mandir di atas tanggul seperti biasanya. Saya tidak tahu penyebabnya kenapa sekarang sepi," ujarnya.
Puji menjelaskan, sebelumnya aktivitas petugas cukup mudah ditemui terutama di jalur tanggul dari titik 35 menuju titik 25. Di kawasan tersebut terdapat sejumlah pompa dan kapal keruk yang digunakan untuk membantu proses pengaliran air dan lumpur menuju Sungai Porong.
"Dulu sering terlihat petugas lalu-lalang di atas tanggul. Apalagi di sekitar titik 35 sampai titik 25 karena di sana ada pompa dan kapal keruk. Sekarang sudah jarang sekali terlihat aktivitas," ungkapnya.
Meski demikian, Puji mengaku tidak mengetahui secara pasti apakah penghentian aktivitas tersebut bersifat sementara atau memang ada kebijakan tertentu dari pihak pengelola. Ia berharap kondisi tanggul dan penampungan lumpur tetap mendapatkan pengawasan secara maksimal mengingat volume air di dalam kolam penampungan dapat berubah sewaktu-waktu.
"Yang penting pengawasan tetap dilakukan. Warga berharap kondisi tanggul tetap aman dan tidak terjadi hal-hal yang membahayakan masyarakat di sekitar area terdampak," pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, Kepala Bidang Perencanaan Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS), Zulyana Tandju menegaskan aliran lumpur masih mengalir ke Sungai Porong.
"Masih ada (aliran lumpur ke sungai Porong)," kata Zulyana kepada detikJatim, Sabtu (30/5/2026).
Zulyana mengatakan, aliran lumpur ke Sungai Porong masih dilakukan. Bahkan sudah rutin dilakukan setiap tahunnya.
"Rutin setiap tahun, sesuai jadwal kegiatan kontrak pengaliran lumpur," tambahnya.
Zulyana kemudian membeberkan pengaliran lumpur saat ini masih ada dengan rata-rata volume 20 Juta M³/tahun.
"Pengaliran lumpur saat ini masih ada secara terus menerus dalam volume tertentu, rata-rata 20 juta meter kubik per tahun yang dilakukan secara mekanis menggunakan peralatan alat berat," jelasnya.
Alat berat itu, kata Zulyana yakni kapal keruk dan pompa melalui pipa outlet yang dialirkan ke Sungai/Kali Porong. Hal ini untuk menjaga kapasitas tampungan genangan waduk agar tetap pada clearance atau jarak ruang aman terhadap top level puncak tanggul.
"Ditambah dengan volume air hujan atau curah yang tinggi agar tidak overtopping," tandasnya.
(ihc/hil)

