Tas Hermes Birkin Kini Bisa Disewa Rp 14 Juta, Tren Flexing Jadi Sorotan
Tas Hermes Birkin selama ini dikenal sebagai simbol kemewahan dan status sosial yang sulit dijangkau banyak orang. Harga fantastis, jumlah produksi terbatas, hingga proses pembelian yang terkenal rumit membuat tas ini menjadi salah satu item fashion paling eksklusif di dunia. Kini, di tengah budaya flexing di media sosial, Birkin bahkan kini disewakan dengan biaya jutaan rupiah.
Salah satu tempat penyewaan tas mewah tersebut adalah platform Vivrelle asal New York. Bukan dengan harga murah, Vivrelle menyewakan tas Hermes tipe Birkin dengan biaya US$ 800 atau sekitar Rp 14 juta per bulan.
Seperti dikutip dari New York Post, pendiri Vivrelle, Blake dan Wayne Geffen, menyebut konsep ini sebagai cara untuk membuat orang lebih mudah mengakses kemewahan. Menurut mereka, pergeseran dari kepemilikan ke akses telah mengubah cara orang memandang fashion.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski begitu, banyak orang mempertanyakan logika di balik menyewa tas semahal itu. Dalam setahun, pelanggan bisa menghabiskan lebih dari 160 juta. Kolektor vintage Hermes asal New York, Sana Roychowdhury, bahkan menilai uang sebanyak itu sebenarnya sudah cukup untuk membeli tas Kelly vintage.
Tas Hermes Birkin (Photo by Edward Berthelot/Getty Images) Foto: Getty Images/Edward Berthelot |
Fenomena ini memicu kritik di media sosial. Sebagian orang menilai tren menyewa Birkin justru menghilangkan nilai eksklusivitas tas tersebut, karena dianggap hanya menjadi alat untuk terlihat mewah dan pamer di media sosial, meski barang itu sebenarnya bukan milik sendiri.
"Saya pribadi tidak mengerti daya tariknya. Mungkin cocok untuk influencer yang ingin pamer, tapi saya lebih suka punya tas yang benar-benar milik saya sendiri," tulis netizen di Reddit.
"Tas saya untuk saya cintai dan saya jaga, bukan untuk dipamerkan di acara tertentu atau simbol status," komentar lainnya.
"Saya suka ide memiliki sesuatu yang bisa diwariskan dan punya cerita sentimental," tulis lainnya.
Media WWD bahkan sempat mempertanyakan apakah influencer telah membuat Birkin menjadi terlalu mainstream. Tas yang dulunya identik dengan quiet luxury kini berubah menjadi simbol kekayaan yang dipamerkan secara terang-terangan di media sosial.
(kik/kik)












































