Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengatakan bahwa tidak akan ada ketenangan di Beirut jika serangan Hizbullah berlanjut. Israel berjanji untuk membangun zona yang dikendalikan militer di daerah Sungai Litani di Lebanon selatan.
"Dahiyeh di Beirut tidak berbeda dengan komunitas di Israel utara -- jika tidak ada ketenangan di utara, tidak akan ada ketenangan di Beirut," kata Israel Katz dalam sebuah pernyataan yang dirilis oleh kantornya, merujuk pada pinggiran selatan Beirut dan benteng Hizbullah tempat ia sebelumnya memerintahkan serangan, dilansir AFP, Selasa (2/6/2026).
"Pada saat yang sama, IDF terus beroperasi dengan tembakan dan manuver melawan kelompok dan infrastruktur Hizbullah di Lebanon... untuk mengusir ancaman dari pasukan IDF dan dari penduduk negara Israel, dan untuk mengubah daerah Litani menjadi zona di bawah kendali keamanan IDF, bebas dari senjata dan teroris," tambah Katz.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berjanji akan semakin menekan Lebanon setelah mengumumkan pada Jumat (29/5), bahwa sebagian besar wilayah Lebanon selatan kini dianggap sebagai "zona pertempuran", meskipun ada gencatan senjata.
Setelah gencatan senjata berlaku pada 17 April, Israel menetapkan "Garis Kuning" sekitar 12 kilometer dari perbatasan utaranya, di dalam wilayah Lebanon.
Minggu lalu, militer Israel menyatakan semua wilayah di selatan Sungai Zahrani Lebanon--sekitar 40 kilometer (25 mil) dari perbatasan dan termasuk kota Tyre dan Nabatieh--sebagai "zona pertempuran" dan memerintahkan penduduk untuk mengungsi.
Avichaya Adraee, juru bicara militer Israel berbahasa Arab, mengatakan pada Senin (1/6), bahwa tentara telah mengeluarkan perintah evakuasi baru untuk tujuh kota dan desa di utara Zahrani.
Presiden Lebanon Joseph Aoun mengatakan pada Senin (1/6), bahwa negaranya menghadapi "agresi Israel yang kejam dan tercela". Israel dan Hizbullah sering saling menuduh melanggar ketentuan gencatan senjata.











































