Cerita Rakyat Suara Nusantara 2026 Dorong Kreativitas Storytelling di Era Digital
Melalui storytelling, kisah tradisional dikemas kreatif agar tetap relevan.
Nakita.id - Di tengah arus modernisasi yang semakin pesat, upaya pelestarian budaya lokal menjadi hal penting agar generasi muda tetap mengenal akar tradisi dan nilai-nilai luhur daerahnya.
Salah satu bentuk pelestarian tersebut diwujudkan melalui kegiatan seni dan literasi yang mampu menghidupkan kembali cerita rakyat sebagai warisan budaya yang sarat pesan moral.
Melalui ajang storytelling, kisah-kisah tradisional tidak hanya dikenalkan kembali, tetapi juga dikemas secara kreatif agar tetap relevan di tengah perkembangan zaman.
Sebagai upaya memperkenalkan kembali kekayaan budaya daerah kepada generasi muda, babak final Festival Storytelling Cerita Rakyat Suara Nusantara Banten 2026 digelar di Pendopo Gubernur Banten.
Kegiatan ini menjadi wadah bagi para peserta untuk mengangkat kembali cerita-cerita rakyat lokal melalui penampilan yang kreatif dan inspiratif. Festival yang diikuti lebih dari 500 peserta mulai dari tingkat SD hingga kategori umum ini menjadi panggung bagi para pendongeng muda untuk menginterpretasikan kembali legenda-legenda khas Banten dengan pendekatan yang segar, kreatif dan menarik.
Gubernur Banten, Andra Soni, menilai bahwa budaya tutur memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda.
“Budaya tutur adalah akar dari jati diri masyarakat Banten. Melalui Festival Suara Nusantara ini, kita tidak hanya mendengarkan cerita masa lalu, tetapi sedang menanamkan nilai-nilai moral dan etika kepada calon pemimpin masa depan,” ujarnya.
Ketua Panitia Pelaksana, Cahaya Manthovani, menyampaikan bahwa "Antusiasme peserta pada tahun ini melampaui ekspektasi, bahkan sejak tahap penyisihan yang dilakukan melalui pengiriman video di Instagram," ungkapnya dalam keterangan pers.
"Para peserta tidak hanya menghafal naskah, tetapi juga mempersiapkan kostum serta properti secara detail. Hal tersebut membuktikan bahwa cerita rakyat tetap relevan apabila diberikan ruang ekspresi yang tepat," tambahnya.
Kompetisi tahun ini terbagi ke dalam empat kategori utama yang melambangkan tahapan pertumbuhan pohon Nusantara. Kategori tersebut meliputi Benih Nusantara untuk tingkat SD/MI, Tunas Nusantara untuk tingkat SMP/MTS, Kuntum Nusantara untuk tingkat SMA/SMK, serta Ranting Nusantara untuk kategori mahasiswa dan umum.
Proses penilaian dilakukan secara ketat oleh dewan juri profesional yang terdiri dari pakar dongeng nasional dan penggerak literasi lokal. Penilaian juga melibatkan pegiat dongeng serta komunitas literasi, termasuk Ayo Dongeng Indonesia. Festival ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi lahirnya panggung-panggung literasi serupa di masa mendatang.
Baca Juga: Kapan Sebaiknya Anak Mulai Belajar Membaca dan Menulis? Jangan Buru-buru
Editor : Poetri Hanzani
Baca Lainnya
PROMOTED CONTENT
Latest
Popular
Tag Popular