Uraikan lika-liku Anda mengasuh anak jadi lebih simpel
Kenali soal gaya asuh lebih apik lewat konsultasi Kompas.com
KOMPAS.com - Pengumuman Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) menjadi momen yang sangat mendebarkan.
Bagi peserta yang dinyatakan tidak lolos, kenyataan ini tentu membawa kekecewaan besar, baik bagi sang anak maupun orangtua yang telah mendampingi proses belajar.
Namun, tak semua orangtua bisa menerima kegagalan anak dengaan respons positif, pada sebagian orangtua, respons yang muncul justru berupa gejolak emosi negatif.
Baca juga: International Day for Failure, Pengingat bahwa Gagal Itu Manusiawi
Jika tidak dikelola dengan tepat, ledakan emosi ini dapat merusak hubungan dan berdampak panjang pada kondisi psikologis. Oleh karena itu, penting bagi orangtua dan anak untuk menata hati terlebih dahulu.
Psikolog Klinis Dewasa, Divani Aery Lovian, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa respons pertama dari keluarga sangat krusial.
"Respons pertama orangtua itu penting banget, karena bisa berpengaruh ke cara anak memaknai kegagalan, enggak cuma di momen ini tapi juga nanti akan terasosiasi ke momen-momen lain yang mungkin serupa," tutur Divani saat dihubungi pada Jumat (29/5/2026).
Ia menambahkan bahwa luapan emosi sesaat berisiko memperburuk keadaan dan menjauhkan anak.
Oleh karena itu, ayah dan ibu harus stabil terlebih dahulu agar kelak bisa memberikan arahan yang rasional kepada buah hatinya.
"Dengan situasi seperti ini sih orangtua idealnya menenangkan diri terlebih dahulu sebelum bereaksi. Jadi kitanya dulu nih yang perlu menenangkan diri," ungkap Divani.
Anak yang gagal masuk ke universitas negeri impian umumnya menanggung tekanan batin yang berat. Mereka merasa malu, takut disalahkan, hingga mempertanyakan harga diri sendiri sebagai individu.
"Yang paling dibutuhkan anak pada fase awal itu bukannya malah nasihat, ceramah atau evaluasi. Mungkin niatnya baik ya, tapi kita perlu membuat anak merasa aman secara emosional," papar Divani.
Langkah awal yang paling tepat adalah memvalidasi perasaan anak, agar mereka merasa dihargai. Orangtua dapat memulai dengan kalimat sederhana yang menunjukkan pengertian bahwa situasi ini juga berat bagi anak.
Baca juga: Cara Membuat Anak Lebih Percaya Diri, Berani Menghadapi Kegagalan
"Validasi seperti ini itu bisa bantu anak tuh ngerasa dipahamin, bukan dihakimin atau di-judge gitu ya. Jadi kayak dihargai dulu prosesnya, divalidasi dulu emosi-emosi yang mungkin muncul," terang Divani.
Di sisi lain, anak juga diajak untuk tidak lari dari rasa sakit hati. Sebab, kesedihan adalah hal wajar karena impian yang diperjuangkan ternyata belum berhasil diraih.
Psikolog Klinis Anak dan Remaja, Alida Shally Maulinda, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa rasa kecewa justru menandakan pentingnya hal tersebut bagi anak.