KOMPAS.com – Di balik sebotol parfum luxury, terdapat proses panjang yang tidak sederhana. Pembuatan satu aroma, bahkan bisa memakan waktu hingga dua hingga tiga tahun.
General Manager L’Oreal Luxe Division Indonesia Maria Adina mengatakan bahwa setiap parfum dikembangkan melalui tahapan riset yang mendalam sebelum akhirnya dipasarkan.
“Untuk menciptakan satu olfactive atau aroma parfum, biasanya dibutuhkan waktu setidaknya dua hingga tiga tahun,” kata Maria dalam acara L’Oreal Brandstorm 2026 di Jakarta Selatan, Rabu (8/4/2026).
Baca juga: Bukan Lagi Sekadar Wewangian, Parfum Kini Jadi Bagian Ekspresi Diri
Menurutnya, proses ini tidak hanya berfokus pada menciptakan aroma yang menarik, tetapi juga memastikan parfum tersebut sesuai dengan kebutuhan dan preferensi konsumen.
Maria menjelaskan bahwa pengembangan parfum luxury melibatkan tim besar yang terdiri dari ribuan peneliti dan ahli.
Di L’Oreal, misalnya, terdapat sekitar 4.000 ilmuwan serta 100 ahli olfaktori atau orang yang secara khusus bertugas untuk merancang dan mengembangkan komposisi aroma parfum.
Baca juga: 8 Tips Agar Wangi Parfum Tahan Lebih Lama, Semprot Langsung ke Kulit
Mereka memiliki tugas untuk menciptakan signature scent yang unik sekaligus relevan dengan tren pasar.
“Ini semua dilakukan secara in-house, bukan bekerja sama dengan fragrance house,” jelas Maria.
Dengan dukungan sumber daya tersebut, setiap parfum dikembangkan melalui proses yang terstruktur dan terukur.
Baca juga: Saat Wewangian Jadi Identitas, Budaya Parfum Indonesia Hadirkan Pilihan Sesuai Momen
Lebih dari sekadar aroma, parfum juga harus melalui berbagai pengujian untuk memastikan kualitas dan keamanannya.
Maria mengatakan bahwa setiap produk diuji secara klinis, termasuk untuk melihat bagaimana parfum berinteraksi dengan berbagai jenis kulit.
Proses ini mencakup pengujian sensitivitas, ketahanan aroma, hingga bagaimana wangi tersebut berkembang seiring waktu saat digunakan.
Selain itu, bahan-bahan yang digunakan juga dipilih secara hati-hati dan bertanggung jawab.
Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa produk tidak hanya memberikan pengalaman yang baik, tetapi juga aman digunakan oleh konsumen.
Baca juga: Nilam dan Kemenyan, Sumber Wewangian Indonesia yang Mendunia
Dalam proses pengembangannya, parfum juga dirancang berdasarkan riset terhadap tren dan preferensi konsumen.
Menurut Maria, teknologi yang digunakan mampu menganalisis bagaimana aroma akan bereaksi di kulit serta bagaimana wangi tersebut bertahan dalam berbagai kondisi.
Hal ini membuat setiap parfum memiliki karakter yang berbeda dan tidak mudah disamakan satu dengan yang lain.
Baca juga: Mengenal Kemenyan yang Disebut Gibran Saat Menyentil Pengguna Parfum LV dan Gucci
Di tengah proses panjang tersebut, Maria juga menyoroti maraknya produk dupe atau tiruan yang beredar di pasaran.
Menurut Maria, tidak jarang parfum yang dikembangkan selama bertahun-tahun dapat dengan cepat ditiru.
Padahal, proses di balik pembuatan parfum luxury melibatkan teknologi, riset, dan pengalaman yang tidak sederhana.
Baca juga: 7 Aroma Parfum yang Menenangkan Pikiran dan Meredakan Stres
“Untuk menciptakan satu aroma parfum tertentu, umumnya butuh waktu dua sampai tiga tahun, sementara ada yang mencoba meniru dalam waktu singkat,” tutur Maria.
Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa diferensiasi utama terletak pada kualitas, teknologi, serta proses pengembangan yang mendalam.
Pada akhirnya, parfum luxury tidak hanya menawarkan aroma, tetapi juga hasil dari proses panjang yang menggabungkan sains, kreativitas, dan pemahaman terhadap konsumen.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang