Pentingnya Mengetahui Love Language untuk Isi Tangki Cinta Si Kecil

Pentingnya Mengetahui Love Language untuk Isi Tangki Cinta Si Kecil

Hana Nushratu Uzma - detikHealth
Senin, 01 Jun 2026 13:00 WIB
Keseruan Hari Terakhir Frisian Flag, Temani Langkahmu, Kini dan Nanti
Foto: Hana Nushratu Uzma/detikcom
Jakarta -

Selain kebutuhan nutrisi, anak juga membutuhkan pemenuhan kebutuhan emosional yang baik untuk mendukung tumbuh kembangnya. Salah satu cara yang dapat dilakukan orang tua adalah memahami love language atau bahasa cinta anak.

Psikolog Klinis Anak, Remaja, dan Keluarga Irma Gustiana Andriani, SPsi, MPsi menjelaskan kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi dapat berdampak pada kesehatan mental, perilaku, hingga kemampuan anak dalam bersosialisasi.

"Ketika kebutuhan emosional anak tidak terpenuhi, dampaknya akan terlihat pada kondisi emosional dan perilakunya. Anak bisa menjadi lebih mudah cemas, merasa tidak berharga, kurang percaya diri, tidak memiliki motivasi, bahkan prestasi belajarnya dapat ikut terpengaruh," ujar Irma, dalam acara 'Frisian Flag, Temani Langkahmu, Kini dan Nanti', di Tangerang Selatan (Tangsel), Minggu (31/5/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal tersebut disampaikan Irma dalam sesi talkshow 'Kebersamaan di Tiap Momen untuk Tumbuh Kembang Si Kecil'. Talkshow ini merupakan salah satu rangkaian acara 'Frisian Flag, Temani Langkahmu, Kini dan Nanti', yang digelar oleh PT Frisian Flag Indonesia (FFI), di Atrium Bintaro Xchange Mall (BXC) 2, Tangsel.

Menurut Irma, memahami bahasa cinta merupakan salah satu cara efektif untuk memenuhi kebutuhan emosional anak. Setiap individu, termasuk anak, memiliki cara yang berbeda dalam menerima dan merasakan kasih sayang.

ADVERTISEMENT

Irma mengibaratkan bahasa cinta sebagai 'bensin' yang mengisi tangki cinta seseorang. Setelah menjalani aktivitas sehari-hari di sekolah maupun lingkungan sosial, tangki cinta anak bisa berkurang dan perlu diisi kembali melalui bentuk kasih sayang yang tepat.

"Bahasa cinta itu seperti bensin untuk mengisi tangki cinta. Ketika tangki cinta terisi, anak memiliki energi emosional yang cukup. Sebaliknya, jika tangkinya kosong, anak akan lebih mudah mengalami masalah emosional," jelas Irma.

Ia menjelaskan bahwa terdapat beberapa bentuk bahasa cinta yang umum ditemukan pada anak, seperti kata-kata afirmasi (words of affirmation), sentuhan fisik (physical touch), waktu berkualitas (quality time), tindakan membantu atau melayani (acts of service), dan pemberian hadiah (receiving gifts).

Sebagai contoh, ada anak yang merasa dicintai ketika mendapatkan pujian atau apresiasi. Ada pula yang lebih menyukai pelukan, usapan lembut, atau sentuhan fisik dari orang tuanya. Sementara anak lainnya lebih senang menghabiskan waktu bermain bersama ayah dan ibu.

"Kalau kita mengetahui bahasa cinta pasangan dan anak, kita bisa memberikan bentuk kasih sayang yang tepat. Hal ini akan membantu menciptakan dinamika keluarga yang lebih sehat secara sosial, emosional, dan perilaku," kata Irma.

Irma juga mengingatkan setiap anggota keluarga bisa memiliki bahasa cinta yang berbeda. Karena itu, penting bagi orang tua untuk mengenali kebutuhan emosional masing-masing anggota keluarga, bukan hanya berdasarkan apa yang mereka sukai sendiri.

"Kita perlu mengenal bahasa cinta diri sendiri, pasangan, dan anak. Jangan sampai kita memberikan kasih sayang dengan cara yang kita sukai, padahal anak membutuhkannya dalam bentuk yang berbeda," jelas Irma.

Pendekatan Humanis dalam Mendampingi Keluarga

Keseruan Hari Terakhir Frisian Flag, Temani Langkahmu, Kini dan Nantii Foto: Hana Nushratu Uzma/detikcom

Senada, Head of Masterbrand & Future Innovation Frisian Flag Indonesia Kanya Ramyacitta mengatakan pemenuhan nutrisi dan dukungan emosional merupakan dua hal yang sama pentingnya dalam mendampingi keluarga Indonesia.

Menurutnya, FFI terus berupaya menghadirkan pendekatan yang lebih dekat dan relevan dengan kehidupan keluarga melalui kampanye yang menekankan pentingnya kebersamaan dan dukungan antar anggota keluarga.

"Melalui semangat 'Nourishing Indonesia', kami ingin terus mendampingi keluarga Indonesia. Tidak hanya berbicara soal nutrisi, tetapi juga tentang membangun kebiasaan baik, memberikan semangat, serta menghadirkan dukungan emosional dalam keluarga," ujar Kanya.

Kanya menilai momen sederhana seperti saling menyiapkan segelas susu dapat menjadi simbol perhatian dan apresiasi antar anggota keluarga.

"Ibu memberikan susu ke anak, anak memberikan susu ke ibu, gitu ya, sebagai bentuk bahwa apresiasi menemani supaya di keluarga itu rasanya tidak sendirian. Ada rasa semangat, walaupun apapun tantangannya, di hari yang berat," jelas Kanya.

"Tapi rasanya kalau kita mendapatkan susu yang penuh nutrisi, tentunya jadi ada rasa yang lebih nikmat. Rasanya itu langkah lebih ringan, bahwa kita bisa mengatasi semua asal bersama-sama dengan keluarga. Sehingga keluarga bisa mendukung dengan baik juga," sambungnya.

Pentingnya Kehadiran Orang Tua dalam Mendukung Minat Anak

Keseruan Hari Terakhir Frisian Flag, Temani Langkahmu, Kini dan NantiFoto: Hana Nushratu Uzma/detikcom

Dalam kesempatan yang sama, Ochi Febriana, ibu dari influencer Shabira Alula (Lala), membagikan pengalamannya dalam mendampingi tumbuh kembang sang anak. Menurut Ochi, salah satu cara memahami kebutuhan anak adalah dengan terus mengamati minat dan ketertarikan mereka sejak dini.

"Saya berusaha memperlakukan anak seperti yang dulu saya harapkan ketika masih kecil. Dengan mengamati kesehariannya, kita bisa mengetahui apa yang sebenarnya disukai dan dibutuhkan oleh anak," ujar Ochi.

Sebagai contoh, Ochi mengungkapkan dirinya berupaya mendukung minat Lala di bidang musik maupun teknologi dengan menyediakan ruang bagi sang anak untuk mencoba berbagai aktivitas yang diminatinya.

"Contohnya, Lala ini kan suka sekali musik, dia suka bernyanyi. Dia ternyata tertarik dengan alat musik, saya mencoba mendampingi lala, 'ayo kita coba yuk, mau piano boleh'," cerita Ochi.

"Kalau misal bermain game, yuk kita coba coding. Jadi berusaha untuk memberi jalan, membimbing, memberi fasilitas kepada anak. Supaya anak itu, kita bisa terpetakan gitu, apa sih yang diinginkan anak," imbuhnya.

Menurut Ochi, peran orang tua tidak hanya sebatas memberikan dukungan materi, tetapi juga kehadiran secara fisik dan emosional. Kehadiran tersebut menjadi bentuk dukungan yang sangat berarti bagi anak maupun orang tua sendiri.

"Menjadi orang tua itu tidak mudah. Karena itu, kita membutuhkan support system," ujar Ochi.

"Ketika merasa ditemani, sesuatu yang berat akan terasa lebih ringan. Begitu juga yang ingin dirasakan anak dalam proses tumbuh kembangnya," tambahnya.

Melalui pemahaman terhadap bahasa cinta dan dukungan yang tepat, orang tua dapat membantu membangun hubungan yang lebih dekat dengan anak sekaligus menciptakan lingkungan keluarga yang sehat secara emosional.

Talkshow 'Kebersamaan di Tiap Momen untuk Tumbuh Kembang Si Kecil' menjadi bagian dari rangkaian acara 'Frisian Flag, Temani Langkahmu, Kini dan Nanti' yang berlangsung pada 29-31 Mei 2026 di Atrium BXC 2, Tangsel.

Selain menghadirkan sesi talkshow bersama Lala, hari ketiga juga menghadirkan talkshow bersama Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB). Gelaran ini juga sekaligus mendukung Hari Susu Sedunia yang jatuh pada 1 Juni.

Hari terakhir diramaikan oleh berbagai penampilan, baik dari ibu maupun Si Kecil. Dari anak-anak, mereka menampilkan Tari Bajul Ijo dan Tari Janger Bali. Sementara, di hari ketiga, acara ini mengajak para ibu berekspresi melalui dance performance. Dilanjutkan dengan penampilan dari Quinn Salman.

Rangkaian acara kemudian ditutup dengan penampilan modern dance, choir, serta music performance dari Mydoremi Musical Studio. Setelah Bintaro, acara 'Frisian Flag, Temani Langkahmu, Kini dan Nanti' juga akan hadir di Tunjungan Plaza, Surabaya, pada 19-21 Juni 2026.

(akd/ega)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads