Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
KALAU di antara kita masih ada yang tidak menerima kekalahan Arsenal atas Paris Saint-Germain, sebaiknya tengok sekali lagi bagaimana duel itu berjalan.
Tim racikan Luis Enrique itu menguasai bola hingga 72 persen, melakukan 19 tembakan, empat di antaranya on target.
Sementara Arsenal cuma memegang bola 28 persen dan melakukan lima tembakan. Satu kans berbuah gol Kai Havertz di menit keenam.
Tim yang dominan dengan bola di kaki, tak selalu menang. Tergantung bagaimana ia mengonversi peluang jadi gol.
Skuad dengan kualitas nomor satu dan sedang panas-panasnya main bola tidak selalu juara. Begitu juga tim dengan pertahanan terkuat tidak selalu menang duel.
Arsenal adalah tim dengan pertahanan terkuat. Di final ia menunjukkan itu dengan pertahanan rapi, pressing ketat dan kalau bukan sedikit "parkir bus".
Untuk melindung kwartet pertahanan, Arteta memasang dua gelandang bertahan: Declan Rice dan Myles Lewis Skelly.
Nama terakhir ini adalah temuan mutakhir Arteta di babak-babak akhir Liga Premier Inggris. Skelly terbilang kokoh, pintar merebut bola dan jago menggiring bola. Aslinya ia bek sayap di sebelah kiri dan tentu punya gocekan kaki kiri yang aduhai.
Dengan enam pemain bertahan, gawang David Raya tidak kebobolan hingga menit ke-63. Namun, aksi Khvicha Kvaratskhelia yang melakukan penetrasi ke area kotak penalti di kanan pertahanan Arsenal gagal dinetralisasi Cristhian Mosquera. Kvara terjatuh dan PSG mendapat penalti.
Ousmane Dembele tak menyia-nyiakan peluang itu. Skor berubah jadi 1-1. Skenario Havertz menjadi pahlawan kemenangan Arsenal batal.
Bayangan ini berkelebat sebab pemain jangkung asal Jerman itu juga mencetak gol (satu-satunya) untuk memberi kemenangan kepada Chelsea atas Manchester City di final Liga Champions musim 2020/2021.
Sebaliknya, gol balasan Dembele membawa ingatan ke musim 2005/2006. Di final musim itu Arsenal bertemu Barcelona.
Ketika itu Thierry Henry dkk sempat unggul satu bola. Namun, keunggulan itu berantakan karena Barca melesakkan dua gol di babak kedua. Skuad emas racikan Arsene Wenger menyia-nyiakan peluang untuk mengukir nama sebagai raja Eropa.
Sebelum laga final di Puskas Arena Budapest, sekurang-kurangnya ada lima rekor yang secara bercanda saya sebut akan 'menentukan' siapa juara Liga Champions Eropa musim 2025/2026.
Pertama, Luis Enrique datang ke Hungaria dengan modal dua kali masuk final Liga Champions (Barcelona 2014/2015 dan PSG 2024/2025). Keduanya berujung trofi.
Sedangkan Arteta, baru untuk kali pertama mencicipi final Liga Champions sebagai pelatih.
Kedua, selain Real Madrud, tidak ada klub yang bisa juara back to back (beruntun) sejak kompetisi tertinggi sepak bola Eropa ini berganti format menjadi Liga Champions.
Real Madrid melakukan dengan gaya di masa Zinedine Zidane sebagai pelatih dengan jawara Eropa tiga musim beruntun (2015/2016-2017/2018).
Ketiga, Thomas Tuchel dan Josep Guardiola (di masa melatih City) perlu dua kali final untuk menggapai trofi Liga Champions.